Get Gifs at CodemySpace.com

PENGAMATAN BURUNG DENGAN METODE IPA (Index Ponctualle de’Abondance)

Sabtu, 26 November 2011




PENGAMATAN BURUNG DENGAN METODE IPA
(Index Ponctualle de’Abondance)
(Laporan Praktikum Analisis Keanekaragaman Flora dan Fauna)





Oleh :

Kelompok I

                                    Andrian Dwi. A                     0814081027
                                    Anita Dewi Agustin               08540810
                                    Agung Wahyudi                    08140810
                                    Noerma Puspita. M               08140810
                                    Rumiko Rivando                   0814081062
                                    Hemi Barokah                       06140810



unila Color Tra














JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011



I.                   PENDAHULUAN



A.                Latar belakang

Burung adalah salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Struktur vegetasi merupakan salah satu faktor kunci yang mempengaruhi kekayaan spesies burung pada tingkat lokal. Burung dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia. Jenisnya sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu yaitu adanya kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan (Hernowo, 1985).

Sebagai salah satu komponen ekosistem, burung mempunyai hubungan timbal balik dan saling tergantung dengan lingkungannya. Atas dasar peran dan manfaat ini maka kehadiran burung dalam suatu ekosistem perlu dipertahankan (Arumasari, 1989).

Selama proses evolusi dan perkembangan kehidupan berlangsung, burung
selalu beradaptasi dengan berbagai faktor, baik fisik (abiotik) maupun biotik. Hasil adaptasi ini mengakibatkan burung hadir atau menetap di suatu yang sesuai dengan kehidupannya dan tempat untuk kehidupannya tersebut secara keseluruhan disebut sebagai habitat (Rusmendro, 2004).

Struktur vegetasi merupakan salah satu faktor kunci yang mempengaruhi kekayaan spesies burung pada tingkat lokal  Hubungan yang sangat erat antara komunitas burung dengan indeks keragaman habitat menunjukkan bahwa burung sangat tergantung pada keragaman kompleksitas dari pohon, tiang dan semak). Ada perbedaan struktur komunitas burung pada daerah yang mempunyai struktur vegetasi yang berbeda ataupun antara vegetasi alami dengan yang terganggu (Paeman, 2002).

Perbedaan jenis-jenis burung pada masing-masing pengamatan menurut
Hernowo (1988), apabila kondisi habitatnya kurang baik dalam mendukung kehidupan burung seperti kurangnya sumber pakan atau faktor lain (luas area dan iklim) dapat mempengaruhi keberadaan jenis burung. Lack (1971), menyatakan bahwa jumlah jenis burung sangat bergantung pada karakteristik habitat, jumlah jenis burung juga dipengaruhi oleh tingkat penggunaan sumber daya yang ada.

Tingkat keseringan burung liar menggunakan jenis tumbuhan merupakan
salah satu kriteria untuk menunjukkan tingkat ketergantungan burung dalam menggunakan suatu habitat untuk melakukan aktivitas (Wiharyanto, 1996).

Pada praktikum ini dilakukan pengambilan data tentang keaneragaman jenis burung di Universitas Lampung pada vegetasi di sekitar Gedung Fakultas Teknik. Pengambilan data burung tersebut dilakukan  dengan metode IPA (Index Ponctualle de’Abondance). Metoda IPA dimaksudkan untuk mencatat populasi hewan dan biasanya dipergunakan untuk burung secara semi kuantitatif. Cara kerjanya diawali dengan menentukan tempat-tempat untuk mencatat populasi hewan secara acak di masing-masing habitat yang ada. Tempat yang dipilih ini merupakan nomor-nomor IPA yang menjadi titik-titik pengamatan di areal pengamatan. Dari data itu dapat dianalisis nilai frekuensi, dominasi dan index diversitas hewan pada masing-masing habitat serta bias pula dianalisis nilai kesamaan (similarity index) komunitas hewan tertentu antara suatu habitat dengan habitat yang lain.


B.                 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan, dominansi dan mengetahui berbagai index keanekaragaman jenis di sekitar Gedung Fakultas Teknik Universitas Lampung.



II.                METODE PENGAMATAN



A.                Lokasi dan Waktu


Pengamatan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2011 di sekitar Gedung Fakultas Teknik Universitas Lampung. Dimulai pukul 07.30 - 09.00 WIB.


B.                 Alat dan bahan


Peralatan dan bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain Panduan Praktikum Analisis Keanekaragaman Flora dan Fauna, tali rapia, alat tulis, tally sheet, dan jam digital.


C.                Cara kerja


Metode yang digunakan ialah metode kombinasi titik hitung atau IPA (Index Ponctualle de’Abondance) dengan langkah kerja sebagai berikut :
1.      Menentukan 5 titik sebagai stasiun pengamatan;
2.      Jarak setiap stasiun pengamatan ialah 100 meter. Jadi jarak dari stasiun awal ke stasiun pengamatan terakhir sejauh 400 meter;






                            100 m
400 meter
3.      Pengamatan dilakukan mulai pukul  07.30 s.d. 09.00 WIB;
4.      Waktu pengamatan di setiap stasiun adalah 15 menit;
-          Mencatat dan membuat sketsa jenis burung yang terlihat maupun yang terdengar,
-          Mencatat jumlah individu per spesies pada setiap stasiun pengamatan,
-          Membuat pengamatan.
5.      Menganalisis data ;
6.      Pembuatan laporan akhir.









































III.             HASIL PENGAMATAN



Tabel 1. Hasil pengamatan di Stasiun A
No
Cuaca
Jam
Jenis Burung
Jumlah
Ket
1
Berawan
07.20
Seriti
1
Terbang
2
Berawan
07.21
Cicit
1
Bertengger
3
Berawan
07.25
Emprit
3
Bertengger
4
Berawan
07.28
Cicit
1
Suara
5
Berawan
07.30
Cicit
2
Bertengger

Tabel 2. Hasil pengamatan di Stasiun B
No
Cuaca
Jam
Jenis Burung
Jumlah
Ket
1
Berawan
07.40
kutilang
4
Bertengger
2
Berawan
07.44
Cicit
2
Bertengger
3
Berawan
07.50
Cicit
Banyak
Suara
4
Berawan
07.53
Cicit
1
Bertengger

Tabel 3. Hasil pengamatan di Stasiun C
No
Cuaca
Jam
Jenis Burung
Jumlah
Ket
1
Berawan
08.02
Perkukut
2
Terbang
2
Berawan
08.03
kutilang
2
Terbang
3
Berawan
08.10
Seriti
1
Terbang
4
Berawan
08.10
Kutilang
2
Bertengger
5
Berawan
08.15
emprit
2
Terbang




Tabel 4. Hasil pengamatan di Stasiun D
No
Cuaca
Jam
Jenis Burung
Jumlah
Ket
1
Berawan
08.22
Seriti
1
Terbang
2
Berawan
08.23
Emprit
2
Bertengger
3
Berawan
08.25
Kutilang
3
Suara
4
Berawan
08.26
cicit
2
Terbang

Tabel 5. Hasil pengamatan di Stasiun E
No
Cuaca
Jam
Jenis Burung
Jumlah
Ket
1
Cerah
08.42
Kutilang
1
Suara
2
Cerah
08.43
kutilang
2
Terbang
3
Cerah
08.45
Cicit
1
Suara
4
Cerah
08.46
Kutilang
4
Terbang
5
Cerah
08.46
Seriti
1
Terbang
6
Cerah
08.47
Cicit
2
Terbang
7
Cerah
08.52
Cicit
2
Bertengger


























DAFTAR PUSTAKA



Arumsari, R. Komunitas Burung Pada Berbagai Habitat Di Kampus UI Depok.
Skripsi Sarjana Fakultas MIPA, Jakarta. 1989. 5 hlm

Basuni, S. Studi Relung Ekologi Tiga Jenis Burung Srangengeng (Famili
Nectariniidae) Di Hutan Gunung Walet, Sukabumi. Fakultas Pasca Sarjana IPB, Bogor. 1988. 7 hlm

Hernowo, JB. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap
Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan Di Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor. 1985
.
Lack , D. Ecological isolation in birds. Blackwell Scientific Publication.
Oxford and Edinburg. 1971. 163 hlm

Paeman, PB. 2002. The Scale of Community Structure: Habitat Varition and Avian Guilds in The Tropical Forest. Ecological Monographs 72: 19-39.

Rusmendro, H. Materi Perkuliahan Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi
Universitas Nasional.Jakarta. 2004.

Wiharyanto, A. Pemanfaatan Tumbuhan Oleh Burung Liar Di Kebun Binatang
Ragunan, Jakarta. Skripsi Sarjana. Fakultas Biologi Universitas Nasional,
Jakarta. 1996.


















SKETSA


1.         Seriti
seriti lg.jpeg







2.         Kutilang
kutilang.jpeg









3.         Prenjak

prenjak.jpeg 







4.         Cicit / Burung Madu (Anthereptes malacensis)
burung madu lg.jpeg












Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Stadium General PKR-MBAM XIV Himasylva menghadirkan Kepala BKSDA Lampung

Selasa, 15 November 2011

Kepala BKSDA Lampung, Ir. Supriyanto, menjadi “keynote speaker” pada acara Stadium General Perkemahan Kerja Rimbawan Masa Bimbingan Anggota Muda (PKR-MBAM) XIV Himasylva. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Kehutanan FP Unila (Himasylva) ini bertempat di Aula Pertanian FP Unila pada tanggal 03 Pebruari 2011. Pada tahun ini, agenda rutin tersebut mengusung tema “Meningkatkan Kualitas dan Pengetahuan Rimbawan yang Dapat Membawa Kehutanan Indonesia Menjadi Lebih Baik”.

Bapak Supriyanto menyampaikan makalahnya yang berjudul “Peran Rimbawan dalam Dunia Kehutanan”. “Setiap rimbawan sepatutnya dapat berperan sesuai dengan minat, bakat dan keahliannya masing-masing”, demikian Pak Pri mengatakan. Dalam kesempatan berikutnya, Pak Pri mengatakan bahwa saat ini bidang kehutanan, khususnya konservasi, sangat membutuhkan banyak sumberdaya manusia yang bekualitas. Kawasan konservasi yang merupakan benteng terakhir eksistensi hutan di Indonesia sangat membutuhkan pengelolaan yang prima. Beliau juga menambahkan, sebagai contoh, banyak hal-hal yang belum diketahui dari manfaat tumbuhan dan satwa liar yang hidup di kawasan hutan Indonesia, sehingga diperlukan upaya identifikasi jenis yang lebih maksimal. Selain itu, potensi-potensi pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam juga belum tergali secara optimal. Masalah kebakaran hutan dan lahan juga masih menjadi perhatian serius bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi negara-negara tetangga yang terkena dampaknya. “Oleh sebab itu, tantangan-tantangan bidang kehutanan di masa depan akan semakin berat, dan ini harus dijawab oleh para rimbawan masa depan”, demikian pernyataan Pak Pri yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Selain menghadirkan Ir. Supriyanto, acara ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya. Salah satunya adalah Ir. Panut Widijanto, MM, Kepala Bidang Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan, Dinas Kehutanan Propinsi Lampung. Dalam kesempatan tersebut, Pak Panut menyampaikan makalahnya yang berjudul “Gambaran Umum Dunia Kerja Kehutanan”. Pembicara lainnya adalah Faridh Al Muhayat, S.Hut., Koordinator Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Propinsi Lampung dan Direktur Eksekutif Garuda Sylva, yang menyampaikan materi berjudul “Penguatan Korps Rimbawan Sebagai Kader Masa Depan”.

Acara yang dihadiri oleh sekitar 50 orang peserta ini disertai juga dengan sesi tanya jawab dan diskusi antara peserta dengan narasumber. Sekitar 6 pertanyaan diajukan oleh peserta kepada narasumber yang sebagian besar berkaitan dengan upaya-upaya konservasi dan rehabilitasi hutan khususnya di Propinsi Lampung. Para peserta juga nampak antusias dalam mengikuti materi kegiatan tersebut. Pada kesempatan ini, BKSDA Lampung juga membagi-bagikan leaflet, poster, dan kalender kepada seluruh peserta dan panitia acara.

Penutupan acara diisi dengan sesi penyerahan plakat oleh Ketua Umum Himasylva, Melisa Yurestika, dan Komandan PKR-MBAM XIV, Meizanur, kepada seluruh narasumber. Sesi foto bersama antara seluruh peserta dengan panitia dan narasumber juga dilakukan untuk mengakhiri acara. Sebelum meninggalkan ruangan, Kepala BKSDA Lampung juga sempat beramah-tamah dengan beberapa peserta dan panitia kegiatan. (ar). 




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

PENYERAPAN UNSUR HARA

Sebelumnya ane minta maaf neech udah lama kagax update or nge-postink di blog ini.
sebagai tanda maaf ane,.ane postingin makalah ane yang berjudul penyerapan unsur hara (makul FISPON)

enjoy...




PENYERAPAN UNSUR HARA
(Makalah Fisiologi Pohon)





Oleh

Rumiko Rivando
0814081062













FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011
                                                                                                 

PENDAHULUAN

Salah satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal adalah ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup di dalam tanah. Jika tanah tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, maka pemberian pupuk perlu dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut. Setiap jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tentunya memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam memberikan unsur hara pada tanaman tentunya sangat penting dijaga keseimbangan dan pengaturan kadar pemberian unsur hara tersebut, sebab jika kelebihan dalam pemberiannya akan tidak baik dampaknya, demikian pula halnya jika yang diberikan tersebut krang dari takaran yang semestinya diberikan (Acehpedia, 2010).

Unsur hara merupakan komponen penting dalam pertumbuhan tanaman, unsur hara banyak tersedia dialam, sehingga tumbuhan bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan metabolismenya. Tetapi ketersediaan unsur hara di beberapa tempat tidak sama, ada yang berkecukupan sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik namun ada juga yang kekurangan, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Khusus untuk tanaman budidaya kebutuhan unsur haranya sangat tinggi, hal ini dikarenakan pada lahan atau tempat yang sama ditanami tanaman tertentu yang membutuhkan jumlah unsur yang sama setiap waktunya. Sedangkan persediaan dialam terus berkurang akibat diserap oleh tanaman budidaya yang ditanam dilahan tersebut musimnya (intensif), sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara harus dilakukan penambahan unsur hara dalam bentuk pupuk dalam jumlah yang cukup.

Berdasarkan ke esensialannya unsur hara yang dibutuhkan tanaman terbagi menjadi dua yakni unsur hara esensial dan unsur hara non- esensial atau beneficial. Unsur hara esensial terdiri atas unsur hara makro dan mikro, unsur hara esensial merupakan unsur hara yang mutlak dibutuhkan tanaman dan fungsinya tidak bisa digantikan oleh unsur lain, tidak terpenuhinya salah satu unsur hara akan mengakibatkan tanaman tersebut tidak dapat menyelsaikan siklus hidupnya. Sedangkan unsur beneficial adalah unsur tambahan yang tidak dibutuhkan oleh semua tanaman, namun perannanya cukup penting pada tanaman tertentu, misalnya jagung agar hasilnya berkualitas perlu ditambahkan unsur Al yang bisa diberikan pupuk ALPO4 (Alumunium fosfat) dalam jumlah tertentu. Bagi tanaman lain unsur Al justru dapat menyebabkan keracunan, namun pada tanaman jagung toleran terhadap Al pada jumlah tertentu malah akan membantu meningkatkan produktivitasnya mendekati potensi genetisnya.

Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda – beda bergantung pada umur, jenis tanaman, dan kebutuhan tanaman itu sendiri. Pada masa vegetative tanaman lebih membutuhkan unsur N,unsur N sangat vital bagi pertumbuhan tanaman karena unsur ini paling banyak dibutuhkan tanaman. Unsur ini fungsi utamanya adalah mensintesisi klorofil yang difungsikan tumbuhan dala melakukan pross fotosintesis. Yang perlu diingat tanaman tidak dapat menyerap unsur hara dalam bentuk tunggal tetapi tanaman menyerap unsur hara tersebut dalam bentu ion seperti unsur hara N dapat diserap tanaman dalam bentuk NH4 dan NO3begitu juga unsur lain juga diserap tanaman dalan bentuk ion, yang sering disebut sebagai bentuk tersedia bagi tanaman. Tetapi permasalahannya jika unsur N diberikan dalam jumlah yang berlebih justru dapat mengakibatkan produksi tanaman menurun, hal ini dikarenakan pemberian unsur N dalam jumlah yang banyak atau melebihi kebutuhan tanaman dapat mengekibatkan fase vegetative tanaman lebih panjang sehingga pembentukan organ generative tidak maksimal. Akibatnya selain produktivitasnya menurun, kualitas yang dihasilkan juga menurun.

Setiap jenis tanaman membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang berbeda. Ketidaktepatan pemberian unsur hara/pupuk selain akan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal juga merupakan pemborosan tenaga dan biaya (tidak efisien). Agar usaha pemupukan menjadi efisien maka, pemberian pupuk tidak cukup hanya melihat keadaan tanah dan lingkungan saja, tetapi juga harus mempertimbang – kan kebutuhan pokok unsur hara tanaman. Dengan diketahui kebutuhan pokok unsur hara tanaman maka dosis dan jenis pupuk dapat ditentukan lebih tepat (Ruhnayat, Agus., 2007).
Pada umumnya kemampuan tanah menyediakan hara, dapt mencerminkan tingkat kesuburan tanah dan berkorelasi positif dengan hasil tanaman yang diusahakan. Di lain pihak tingkat kesuburan tanah berkorelasi negative dengan kebutuhan pupuk atau dapat diartikan makin tinggi tingkat kesuburan tanah, maka makin rendah penggunaan pupuk buatan dan tdak perlu ditambahkan (Suyamto dan Z. Arifin, 2002). Tetapi jika jumlah unsur hara tidak dapat memenuhi kebutuhan tanaman setelah melalui analisis tanah maka perlu ditambahkan nutrisi yang ditambahkan dalam bentuk pupuk.
Pemupukan merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan pada tanaman yang kebutuhan nutrisinya belum terpenuhi, pemupukan adalah pemberian bahan kepada tanah dengan maksud memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah. Pemberian bahan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah baik fisika, kimia maupun biologi disebut amandemen (ameliorasi). Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan untuk menambah unsur hara tersedia dalam tanah. Jadi pemupukan bertujuan memberi unsur hara yang cukup bagi kebutuhan tanaman dan atau memperbaiki atau memelihara kondisi tanah dalam hal potensi pengikatan unsur hara. Pemupukan yang tepat dan benar dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan serta perkembangan tanaman, menambah daya tahan terhadap hama dan penyakit tertentu, maupun meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian (Yukamgo, E. dan Yuwono, W,N., 2007).
Efisiensi pemupukan dan pemupukan yang berimbang dapat diiakukan apabila memperhatikan status dan dinamika hara dalam tanah serta kebutuhan hara bagi tanaman untuk mencapai produksi optimum. Dengan pendekatan ini, maka dapat dihitung kebutuhan pupuk suatu tanaman pada berbagai kondisi tanah (status hara rendah, sedang dan tinggi) dan pada tanah-tanah lainnya pada tingkat famili yang sama (Wijanarko, A dan Taufiq, A., 2008). Berdasarkan penelitian Kadarwati, T,F., (2006 ) dapat diketahui bahwa nitrogen merupakan hara yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman kapas, dan waktu pembungaan sampai dengan pembuahan merupakan fase yang paling banyak memerlukan unsur nitrogen. Sedangkan fase pembuahan sangat memerlukan unsur P dan K dalam jumlah yang lebih banyak. Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro yang paling banyak dibutuhkan tanaman, unsur nitrogen sangat berperan dalam fase vegetative tanaman.
Pada awal pertumbuhan tanaman bagian yang pertama tumbuh dan berkembanga adalah bagian vegetative tanaman seperti daun, batang, dan akar, pada bagian daun lebih spesifik lagi unsur nitrogen berfungsi untuk mensintesis kolrofil yang sanngat vital didalam proses fotosintesis. Klorofil berfungsi untuk menerima atau menagkap cahaya yang dibutuhkan tumbuhan untuk mengolah air (H2O) dan karbondioksida (CO2) menjadi karbohidrat yang merupakan sumber makanan utama bagi tumbuhan sehingga bisa digunakan untuk aktivitas fotosintesis dan metabolism lainnya.
Unsur N banyak tersedia atau berlimpah didalam udara dalam bentuk N2 , tetapi bentuk tersebut tidak bisa diserap atau dimanfaatkan oleh tanaman dan agar bisa dimanfaatkan tanaman maka unsur N yang ada diudara tersebut terlebih dahulu harus berfiksasi dengan unsur H ataupun oksigen dan air. Selain itu unsur nitrogen juga dapat ditembat oleh organism mikro seperti Rhizhobium yang dapat menembat unsur N di udara menjadi unsur yang tersedia bagi tanaman. Menurut Winarso, S., (2003) sebagian besar N didalam tanah dalam bentuk senyawa organik tanah dan tidak tersedia bagi tanaman. Fiksasi N organik ini sekitar 95% dari total N yang ada di dalam tanah. Konsentrasi N total (organik dan anorganik) dalam tanah yang ditanami rotasi Oat dan Kedelai jauh lebih besr apabila dibandingkan dengan konsentrasi N anorganiknya, N dapat diserap tanaman dalam bentuk ion NO3- dan NH4+.
Tetapi dalam beberapa kasus setelah diberikan pemupukan dalam jumlah tertentu tanaman malah terjadi keracunan, dan ada juga yang mengalami defisiensi. Menurut Sabiham, (1996) kejadian ini dimungkinkan pemupukan yang dilakukan kurang tepat, dimana pupuk belum digunakan secara rasional sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kemampuan unsur hara. Untuk mengatahui kebutuhan optimum tanaman akan unsur hara selain perlu dilakukan uji analisis tanah juga perlu dilakukan uji batas kritis suatu unsur hara pada tanaman.  Untuk menentukan batas kritis N untuk tanaman jagung dilakukan dengan menggunakan metode grafik Cate_Nelson. Tetapi metode tersebut hanya diperoleh dua kategori, yaitu respon terhadap pemupukan dan tidak respon terhadap pemupukan. Batas kritis tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni umur tanaman, umur fisiologis jaringan tanaman, macam jaringan, interaksi antar unsur, dan iklim.


















ISI

Unsur hara dapat tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah berada disekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses, yaitu:
(1) Proses Aktif, yaitu: proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif atau proses penyerapan hara yang memerlukan adanya energi metabolik, dan
(2) Proses Selektif, yaitu: proses penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif.

Proses Aktif:
Proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif dapat berlangsung apabila tersedia energi metabolik. Energi metabolik tersebut dihasilkan dari proses pernapasan akar tanaman. Selama proses pernapasan akar tanaman berlangsung akan dihasilkan energi metabolik dan energi ini mendorong berlangsungnya penyerapan unsur hara secara proses aktif. Apabila proses pernapasan akar tanaman berkurang akan menurunkan pula proses penyerapan unsur hara melalui proses aktif. Bagian akar tanaman yang paling aktif adalah bagian dekat ujung akar yang baru terbentuk dan rambut-rambut akar. Bagian akar ini merupakan bagian yang melakukan kegiatan respirasi (pernapasan) terbesar.



Proses Selektif:
Bagian terluar dari sel akar tanaman terdiri dari: (1) dinding sel, (2) membran sel, (3) protoplasma. Dinding sel merupakan bagian sel yang tidak aktif. Bagian ini bersinggungan langsung dengan tanah. Sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang bersifat aktif. Bagian ini dikelilingi oleh membran. Membran ini berkemampuan untuk melakukan seleksi unsur hara yang akan melaluinya. Proses penyerapan unsur hara yang melalui mekanisme seleksi yang terjadi pada membran disebut sebagai proses selektif.
Proses selektif terhadap penyerapan unsur hara yang terjadi pada membran diperkirakan berlangsung melalui suatu carrier (pembawa). Carrier (pembawa) ini bersenyawa dengan ion (unsur) terpilih. Selanjutnya, ion (unsur) terpilih tersebut dibawa masuk ke dalam protoplasma dengan menembus membran sel.
Mekanisme penyerapan ini berlangsung sebagai berikut:
(1) Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk kation (K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+) maka dari akar akan dikeluarkan kation H+ dalam jumlah yang setara, serta
(2) Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk anion (NO3-, H2PO4-, SO4-) maka dari akar akan dikeluarkan HCO3- dengan jumlah yang setara.

Selain air dan cahaya matahari tanaman juga membutuhkan unsur hara, bahkan sebagian unsur hara bersifat esensial bagi tanaman yakni mempunyai fungsi khusus, mempunyai peran secara langsung, dan fungsinya tidak bisa digantikan oleh unsur hara lainnya. Unsur hara esensial terdiri atas hara mikro dan makro, Unsur N termasuk unsur makro esensial yakni unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar (terbesar) dan tidak bisa digantikan oleh unsur lainnya. Fungsi unsur N bagi tumbuhan yakni sebagai bahan penyusun protein tanaman, klorofil, asam nukleat, dan menghasilkan diding sel yang tipis sehingga dapat memacu produksi tanaman lebih maksimal.
Air dan unsur hara diserap tanaman lewat akar, penyerapan unsur hara terbagi atas tiga cara yakni difusi, mass flow (aliran massa), dan intersepsi akar. Air beserta nutrient yang terlarut didalamnya, disebut larutan tanah, bergerak melalui tanah hingga mencapai akar tanaman. Selanjutnya dari kejadian tersebut terjadi penyerapan air dan nutrient oleh sel – sel tanaman dengan mekanisme yang berbeda.
v  Aliran massa (mass flow) merupakan penyerapan unsur hara melalui pergerakan nutrien atau hara yang ada didalam tanah dalam massa air yang bergerak.
v  Intersepsi akar terjadi pada waktu akar tanaman tumbuh memasuki ruangan yang ditempati oleh unsur hara dan terjadi kontak yang sangat dekat sehingga terjadi pertukaran ion pada permukaan akar dan permukaan kompleks adsorpsi.
v  Difusi merupakan penyerapan hara oleh akar dari larutan tanah, hara yang terlarut lainnya bergerak menuju akar tanpa aliran masa, prisip difusi yakni pergerakan area berkonsentrasi setiap elemen tinggi menuju area yang berkonsentrasi setiap elemen  lebih rendah.
Unsur hara N (nitrogen) sebagian besar berasal dari udara yakni dalam bentuk N2tetapi bentuk ini tidak bisa diserap oleh tanaman, melainkan unsur N bisa diserap oleh tanaman dalam bentuk ion yakni NH4+ dan NO3-. Ion NH4+ merupakan bentuk yang terfiksasi liat ( Bahan organik, BO, mineral) dan merupakan bentuk yang lamkedalam bat tersedia. Ion NH4+ diserap oleh tanaman dalam bentuk aerob sedangkan NO3-diserap oleh tanaman dalam sasana anaerob karena tidak membutuhkan bantuan oksigen karena penyerapan tersebut terjadi dibawah tanah yang terdapat sedikit oksigen. Ion NO3- cepat tersedia bagi tanaman dan mikroorganisme, organism juga menggunakan NH4+ dalam suasan aerobic, ion NO3- sangat mobil didalam tanah. Ion tersebut bergerak bebas dengan air tanah, sehingga dapat tercuci ke dalam air tanah dan erosi ke badan – badan air sehingga terjadi pengkayaan (eutrofikasi).
Ion NH4+ lebih stabil di dalam tanah apabila dibanding dengan ion NO3-, sebab dapat diikat  dalam tapak serapan yang baik pada liat organik meupun anorganik. Sehingga akan menjadi sangat baik dan menguntungkan mempertahankan N dalam bentuk NH4+. Pemupukan N dengan membenamkan ke dalam tanah atau lapisan reduksi pada tanah sawah adalah usaha untuk mengurangi kehilangan N melalui penguapan maupun pencucian. Ion NH4+ bukan merupakan subyek pencucian air ke dalam air tanah. Beberapa tanaman (gandum, kapas, jagung hibrida) hasilnya meningkat jika diberikan N campuran NH4+ dan NO3-. Denitrifikasi tidak akan terjadi jika N masih dalam bentuk  NH4+ (Winarso. S, 2003).
Peranan unsur nitrogen sudah tidak diragukan lagi bagi pertumbuhan tanaman, kekurangan atau kelebihan N akan berkibat pertumbuhan tanaman terhambat. Kekurangan unsur N atau dikenal dengan defisiensi unsur N memiliki cirri utama yang terlihat pada daun yakni menguning (klorosis), keadaan ini berbeda dengan daun yang normal yakni berwarna hijau tua yang berarti mengandung klorofil tinggi. Proses penguningan daun tanaman yang kekurangan N dimulai dari daun – daun yang tua dan akan terus ke daun – daun muda jika kekurangan N terus berlanjut. Kejadian ini menunjukan bahwa N sangat mobil, artinya apabila kekurangan N maka N dalam jaringan tua akan dimobilisasikan ke jaringan – jaringan muda (titik tumbuh) sehingga pada jaringan tua terjadi klorosis dan pada jaringan muda tetap tumbuh normal yakni berwarna hija. Gejala lainya adalah pertumbuhan lambat atau kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.
Untuk kelebihan N akan menyebabkan keracunan, akibat kelbihan N yakni pertumbuhan vegetative tanaman dapat ditingkatkan tetapi akan memperpendek masa generative, yang akhirnya justru menurunkan produksi atau menurunkan kualitas tanaman. Tanaman yang kelebihan N menunjukan warna hijau gelap dan sukulen yakni terlalu banyak mengandung air, akibatnya tanaman menjadi sangat rentan akan serangan organism penggangu tumbuhan (OPT) yakni hama, bakteri, jamur, virus, dan gulma, selain itu tanaman juga mudah roboh. Keracuanan N dapat dipicu karena  terlalu banyaknya unsur N yang tersedia Dalam am bentuk ammonium (NH4+) meskipun penyerapan tanaman akan lebih maksimal jika N dalam bentuk ion ini. Keracunan pada tanaman dapat mengakibatkan jaringan pada vascular pecah dan berakibat terhambatnya resapan air.
Unsur nitrogen diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesis, unsur N berperan untuk mempercepat fase vegetative karena fungsi utama unsur N itu sendiri sebagai sintesis klorofil. Klorofil berfungsi untuk menagkap cahaya matahari yang berguna untuk pembentukan makanan dalam fotosintesis, kandungan klorofil yang cukup dapat membentu atau memacu pertumbuhan tanaman terutama merangsang organ vegetative tanaman. Pertumbuhan akar ,batang, dan daun terjadi dengan cepat jika persediaan makanan yang digunakan untuk proses pembentukan organ tersebut dalam keadaan atau jumlah yang cukup.

Pengangkutan Zat Melalui Xylem     
Pengangkutan zat pada tumbuhan dibedakan menjadi :
1.         Pengangkutan vaskuler (intravaskuler) : pengangkutan melalui berkas pembuluh pengangkut.
2.         Pengangkutan ekstravaskuler : pengangkutan air dan garam mineral di luar berkas pembuluh pengangkut. Pengangkutan ini berjalan dari sel ke sel dan biasanya dengan arah horisontal. Di dalam akar pengangkutan ini melalui :
            bulu akar - epidermis  -  korteks  -  endodermis  -  xylem.
            Penganngkutan ekstravaskluler dibedakan :
-           transportasi/ lintasan apoplas : menyusupnya air tanah secara bebas atau transpor pasif melalui semua bagian tak hidup dari tumbuhan (dinding sel dan ruang antar sel)
-           transportasi/ lintasan simplas : bergeraknya air dan garam mineral melalui bagian hidup dari sel tumbuhan (sitoplasma dan vakoula).
Air dan garam mineral akan diangkut ke daun melalui pembuluh kayu (xylem). Komponen utama penyusun xylem adalah elemen pembuluh (trakea) dan trakeid.
Trakea dan trakeid merupakan sel-sel yang mati karena tidak mempunyai sitoplasma dan hanya mempunyai dinding sel.
Sel trakea terdiri atas tabung yang berdinding tabal dan membentuk suatu pembuluh.
Sel trakeid merupakan sel dasar penyusun xylem, yang terdiri dari sel memanjang dan berdinding keras karena mengandung lignin. Pada beberapa tempat dinding sel trakeid terdapat bagian-bagian yang tidak menebal yang disebut noktah.
Selain trakea dan trakeid xylem juga mengandung sel parenkim (parenkim kayu) yang merupakan sel hidup dan berfungsi untuk menyimpan bahan makanan. Xylem juga mengandung serabut kayu yang berfungsi sebagai penguat (penyokong)
Proses pengangkutan air dan zat zat terlarut hingga sampai ke daun pada tumbuhan dipengaruhi oleh :
-           daya kapilaritas : pembuluh xylem yang terdapat pada tumbuhan dianggap sebagai pipa kapiler. Air akan naik melalui pembuluh kayu sebagai akibat dari gaya adhesi antara dinding pembuluh kayu dengan molekul air.
-           daya tekan akar : tekanan akar pada setiap tumbuhan berbeda-beda. Besarnya tekanan akar dipengaruhi besar kecil dan tinggi rendahnya tumbuhan (0,7  -  2,0  atm). Bukti adanya tekanan akar adalah pada batang yang dipotong, maka air tampak menggenang dipermukaan tunggaknya.
-           daya hisap daun : disebabkan adanya penguapan (transpirasi) air dari daun yang besarnya berbanding lurus dengan luas bidang penguapan (intensitas penguapan).
-           pengaruh sel-sel yang hidup



PENUTUP

Salah satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal adalah ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup di dalam tanah.
Unsur hara dapat tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah berada disekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses, yaitu:
(1) Proses Aktif, yaitu: proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif atau proses penyerapan hara yang memerlukan adanya energi metabolik, dan
(2) Proses Selektif, yaitu: proses penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Provokator Tawuran Unila Terancam DO

Sabtu, 24 September 2011

VIVAnews - Rektor Universitas Lampung (Unila) Sugeng P. Harianto mengancam akan memberikan sanksi dikeluarkan atau drop out (DO) kepada mahasiswa Unila yang dianggap sebagai provokator pada tawuran yang terjadi antar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Teknik Unila, Rabu kemarin.

"Unila tidak bisa mentolerir hal yang memalukan tersebut," kata Sugeng saat ditemui pada acara Dies Natalis Unila, Kamis 22 September 2011.

Sugeng menambahkan masing-masing fakultas sedang menginventaris kerusakan dan korban luka akibat tawuran itu. Jika ditemukan tindak kriminal, imbuhnya, kampus menyerahkan kepada kepolisian. "Saya juga masih bertanya-tanya apakah benar kejadian tersebut dipicu benar-benar oleh mahasiswa Unila. Hal ini masih diusut," tukasnya.

Sementara itu, Pembantu Rektor III Unila Sunarto juga mengutuk peristiwa brutal tersebut. "Itu bukan mahasiswa. Sangat memalukan!"
Sunarto juga mengatakan pimpinan serta perwakilan mahasiswa masing-masing fakultas masih  berunding. "Kedua fakultas sudah berjanji untuk berdamai," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua fakultas ini terlibat tawuran yang dipicu saling senggol dan rebutan jalan saat arak-arakan perayaan wisuda. Dalam peristiwa tersebut puluhan mobil, motor milik dosen, dan mahasiswa rusak. Kaca-kaca gedung kampus juga hancur berantakan.

Menurut pantauan VIVAnews di kedua fakultas, Kamis 22 September 2011, suasana masih terlihat mencekam. Puluhan anggota kepolisian bersenjata masih disiagakan di antara kedua fakultas tersebut. Bahkan proses belajar di kedua kampus diliburkan untuk menghindari tawuran berulang kembali.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Link abaout kehutanan

http://pengertian-definisi.blogspot.com/p/paper.html

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

FUNGSI DAERAH ALIRAN SUNGAI

Daerah Aliran Sungai sebagai suatu hamparan wilayah/kawasan yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya ke laut atau ke danau maka fungsi hidrologisnya sangat dipengaruhi jumlah curah hujan yang diterima, geologi yang mendasari dan bentuk lahan.

Fungsi hidrologis yang dimaksud termasuk kapasitas DAS untuk:
  1. mengalirkan air;
  2. menyangga kejadian puncak hujan;
  3. melepas air secara bertahap;
  4. memelihara kualitas air dan
  5. mengurangi pembuangan massa (seperti tanah longsor)


Memahami hubungan antara penggunaan lahan dan aliran air ke daerah hilir memiliki arti yang sangat penting karena permintaan air bagi produksi pertanian, industri dan kebutuhan domestik terus meningkat, sementara suplai tetap. Dalam banyak kasus, kekhawatiran akan dampak penggundulan hutan pada kualitas, kuantitas dan keteraturan aliran air dari hulu, merupakan dasar diterapkannya aturan penggunaan lahan. Suatu aturan penggunaan lahan seringkali mengakibatkan makin terbatasnya kesempatan masyarakat hulu untuk hidup sesuai dengan cara yang mereka inginkan atau anggap cocok.


Keprihatinan atas hilangnya hutan tropis pada hakikatnya merupakan kekhawatiran atas hilangnya 'nilai intrinsik' hutan dan fungsi jasa lingkungan. Penggunaan lahan di daerah hulu, seperti untuk kawasan hutan, pertanian, dan agroforestri, merupakan bagian penting dari fungsi jasa lingkungan. Masyarakat memperoleh pendapatan (subsisten atau manfaat langsung) dari apa yang mereka panen, tanam, dan ambil dari lanskap daerah hulu. Sayangnya, mereka tidak memperoleh hasil apapun dari usaha memelihara agar lanskap selalu dapat menghasilkan fungsi jasa lingkungan bagi para pengguna di luar kawasan dan di daerah hilir. Dengan demikian, pemeliharaan dan peningkatan fungsi jasa lingkungan masih dianggap sekedar eksternalitas dari keputusan pengelolaan lahan yang diambil.

Sumber : Pendekatan Terpadu dalam Menilai Fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Oleh Farida, Kevin Jeanes, Dian Kurniasari,Atiek Widayati,Andree Ekadinata, Danan Prasetyo Hadi, Laxman Joshi, Desi Suyamto dan Meine van Noordwijk

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

SIG

Aplikasi Sistem Informasi Geografis

  1. Pelayanan emergensi (Emergency Services): Sistem informasi kejadian kebakaran dan masalah-masalah kopolisian (Fire and Police emergence services)
  2. Lingkungan (Environmental) yang mencakup masalah pemantauan dan atau pemodelan spasialnya (Monitoring and spatial modeling)
  3. Bisnis (Business), misalnya penentuan lokasi lokasi perniagaan (toko, mall, pasar swalayan), sistem pelayanan antar (delivery service system).
  4. Industri transportasi, komunikasi, pertambangan, pemasangan pipa dan layanan kesehatan (Transportation, Communication, Mining, Pipelines, Healthcare)
  5. Pemerintahan (Government), batas-batas administrasi pemerintahan beserta data statistiknya serta kemiliteran.
  6. Pendidikan, penelitian dan administrasi. 


Dengan keunikan SIG  yang didisain merupakan gabungan antara CAD dan basis data serta mempunyai konsep topologi, maka SIG mampu menjawab beberapa pertanyaan generik, diantaranya adalah:

1        Lokasi: untuk mengetahui lokasi keberadaan suatu fitur (feature) tertentu. Misalnya:
a)     Di Lokasi HPH mana saja lokasi kebakaran hutan atau titik-titik hot spot ditemukan?
b)     Lokasi hutan gambut ada dimana saja di Wilayah Kalimantan Tengah?
c)      Kejadian lokasi longsor ada pada koordinat berapa?

2        Ukuran (panjang, luas dan keliling):
a)     Berapa jarak antara lokasi tanah longsor dari ibu kota kecamatan A?
b)     Berapa luas lahan longsor yang terjadi
c)      Berapa kira-kira panjang batas luar suatu kawasan Taman Nasional?

3        Analisis tetangga (neighbourhood analysis)  Dengan SIG, maka dapat dilakukan analisis tetangga, yaitu:
a)     Adjacency atau contiguty, untuk mengetahui apa saja fitur atau obyek yang ada di sekitarnya.  Contoh, nama-nama desa yang berbatasan langsung dengan propinsi DKI Jakarta.  Kecamatan apa saja yang dilalui oleh ruas jalan tertentu?
b)     Connectivity, untuk mengetahui keterhubungan antara fitur yang satu dengan yang lainnya. Contoh, Apakah lokasi kebakaran hutan dapat diakses dengan jalan tertentu? 
c)      Proximity, pada radius 200 m dari sumber mata air ada apa saja?  Siapa saja pemilik lahan yang akan dibebaskan di sepanjang jalan Jakarta-Bogor pada kisaran lebar 50 meter di kiri-kanan jalan?

4        Atribut: Apa saja atribut yang dimiliki oleh suatu fetaure? Keterangan atau fakta yang menerangkan suatu feature. Ini akan sangat mudah diketahui karena semua data sapasial pada SIG terkait dengan suatu basis data, yang mempunyai record dan field (item) tertentu.

5        Mampu mengetahui kesesuaian penggunaan kawasan, atau melalukan ”query”terhadap suatu fitur yang dikehendaki.  Misalnya:
a)     Kesesuaian fungsi kawasan
b)     Mencari lokasi yang sesuai dengan penggunaan lahan untuk pembangunan bangunan tempat perkemahan yang mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut:
i)       Dekat dengan sumber mata air (maksimal 200 m)
ii)     Kemiringan lereng tidak boleh lebih dari 15%
iii)   Luas lahan minimal 1000 m2.
iv)    Jarak dari jalan utama maksimal 3 km

6        Bagaimana pola (pattern) keberadaan tanah longsor atau kebakaran hutan yang terjadi? Bagaimana hubungan spasialnya dengan fitur-fitur yang ada di sekitarnya?

7        Bagaimana trend (kecenderungan) suatu fitur?.  Sebagai contoh, bagaimana kecenderungan perubahan lahan yang terjadi di Kabupaten Bogor pada periode 2000 sampai dengan 2005? Bagaimana dengan intensitas kerusakannya dalam kurun waktu tertentu?

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Trend Teknologi SIG dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam

Software SIG

Sejak awal tahun 1995-an, sistem informasi geografis berkembang demikian pesat. Pada bidang aplikasi pengelolaan sumberdaya lama, trend evolusi, adaptasi dan perubahan SIG tetap berlanjut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pemakai. Pada awalnya perangkat lunak SIG maupun penginderaan jauh hanya dirancang menggunakan format data tertentu, misalnya hanya menggunakan struktur data raster atau vektor. Sejalan dengan kemanjuan teknologi, dan semakin banyaknya perangkat lunak SIG baik untuk penelitian maupun pengerjaan proyek berskala besar, perangkat lunak yang ada saat ini sudah mulai mempunyai kemampuan untuk mengolah atau menganalisis data vektor dan data raster sekaligus. Dari sejumlah perangkat lunak yang tersedia di pasaran, beberapa diantaranya dapat membaca format-format yang dikeluarkan oleh perangkat lunak lainnya.

Kehutanan Detil (Precision Forestry)

Kedatangan citra satelit beresolusi spasial tinggi seperti IKONOS dan Quickbird, telah membuka kesempatan dan peluang baru dalam pengembangan dan atau penelitian. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, saat ini telah diperkenalkan apa yang disebut dengan ”Kehutanan detil (precision forestry)” atau ”Pertanian detil (precision agriculture)” (Bettinge and Wing, 2004). Pada tehnik yang presisi ini juga digunakan GPS sebagai sarana navigasi. Precision forestry dikemukakan pada Bulan Juni tahun 2001 di University of Washington’s Forestry Symposium. Dalam simposium ini dibahas tentang metode pengumpulan, analisis dan pemanfaatan data yang mempunyai keakuratan dan ketelitian yang tinggi dari permukaan bumi untuk pengelolaan sumberdaya alam.
Dalam kehutanan detil, biasanya digunakan alat pendukung yang juga mempunyai ketelitian yang tinggi, misalnya penggunaan EDM (Electronic Distance Measuring) tool untuk merekam posisi spasial dari suatu fitur bentang alam secara teliti dan tepat waktu. Dalam hal ini juga diperlukan adanya DEM yang mempunyai resolusi spasial yang halus. Ketersediaan GPS dengan kemampuan ketelitian yang tinggi akan ikut membantu perkembangan kehutanan detil ini.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Amerika Serikat kucurkan Dana US$1,5 juta untuk REDD Plus di Indonesia

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memberikan pendanaan awal sebesar US$1,5 juta dari pendanaan multi-juta dolar Dana Hutan dan Iklim Gubernur atau “Dana GCF”, untuk mendukung implementasi Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) di negara bagian dan propinsi GCF.

Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang menuturkan dana GCF merupakan fasilitas pertama di dunia dimana donor publik dan swasta serta investor dapat secara langsung mendanai upaya-upaya REDD+ negara bagian dan propinsi di banyak negara.

“Hari ini para Gubernur GCF menyediakan peluang kemitraan yang unik untuk membantu kita mengembangkan jalur-jalur baru menuju pembangunan rendah emisi sambil tetap mengedepankan prioritas masyarakat lokal pengguna hutan untuk meningkatkan standar hidup mereka dan akses mereka ke pendidikan dan layanan kesehatan,” ujarnya, hari ini.

Saat ini, peluang-peluang pendanaan bagi negara bagian dan propinsi yang berupaya mengembangkan program-program REDD+ yang inovatif masih terbatas.

Dana GCF dikembangkan untuk mengatasi kesenjangan ini lewat pembentukan sebuah fasilitas pendanaan independen senilai US$6 juta untuk mempromosikan pengembangan program-program REDD+ se-negara bagian/propinsi yang berhasil.

Pada Agustus 2011, Departemen Negara Amerika Serikat menjadi penyokong dana awal untuk Dana GCF, lewat komitmen pendanaan sebesar US$1,5 juta untuk mendukung peningkatan kajian stok karbon hutan se-negara bagian dan peningkatan proses-proses stakeholder.

Dana GCF sedang mencari tambahan dana sebesar US$4,5 juta untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung dan direncanakan untuk periode 2012-2013 terkait perhitungan karbon hutan, program-program pengembangan model-model pembagian manfaat dan kegiatan-kegiatan pendukung implementasi REDD+. (bsi)

copas : http://irwantoshut.blogspot.com/2011/09/amerika-serikat-kucurkan-dana-us15-juta.html

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer