TINJAUAN PUSTAKA

Kamis, 05 Januari 2012

 



II. TINJAUAN PUSTAKA

A.    Rusa Sambar

Di Indonesia sendiri terdapat 4 (empat) species rusa yang merupakan satwa asli Indonesia, 3 (tiga) species lainnya adalah rusa sambar (Cervus unicolor), rusa timor (Cervus timorensis), dan rusa kijang (Muntiacus muntjak).  Dan salah satunya adalah Rusa Sambar, yang memeiliki sistematika taksonomi sebagai berikut:
Kerajaan                :  Animalia
Filium                    :  Chordata
Kelas                     :  Mammalia
Ordo                      :  Artiodactyla
Upaordo                :  Ruminantia
Famili                    :  Cervidae
Upafamily             :  Cervinae
Genus                    :  Cervus
Species                  :  C.unicolor
Nama binomial      :  Cervus unicolor

Rusa sambar (Cervus unicolor Kerr) mempunyai warna bulu yang gelap ataupun hitam kemerahan.  Bahagian bawahnya adalah lebih pucat. Rusa jantan mempunyai bulu leher yang pendek.  Tinggi spesies ini adalah 1.35 m - 1.50 m dan mempunyai berat badan sehingga 300 kg.  Umur spesies ini mencapai 16-20 tahun (Anonim, 2008).  Umur hidup rusa sambar yang relatif lama ini memiliki potensi untuk didomestikasi. Selain upaya pelestarian, dapat juga dijadikan salah satu usaha masyrakat yang memiliki output sebagai jasa wisata, pemenuhan konsumsi protein hewani dan obat-obatan.

      Rusa sambar (Cervus unicolor) merupakan rusa terbesar untuk daerah tropik dengan sebaran di Indonesia terbatas di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau kecil di sekitar Sumatera (Whitehead, 1994).  Rusa sambar juga merupakan jenis rusa yang besar dan mempunyai  kaki yang panjang, warna kulit dan rambut coklat tua, bagian perut berwarna lebih gelap sampai kehitam-hitaman, rambut kaku, kasar dan pendek.

       Berat badan bervariasi antara 185 – 260 kg dengan tinggi badan 140 – 160 cm.  Jantan dewasa memiliki rambut surai yang panjang dan lebat di bagian leher dan atas kepala.  Rusa sambar mencapai dewasa kelamin pada umur 8 bulan dan dapat hidup hingga umur 11 tahun.  Periode gestasi 7 bulan dan interval gestasi mencapai 1,5 tahun (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994). Ada kecenderungan anak jenis rusa sambar yang berasal dari India dan Sri langka merupakan yang terbesar dan tertinggi (Awal et al., 1992, Lewis et al., 1990). Pada lingkungan  peternakan di Australia, rusa sambar betina dapat mencapai berat badan 228 kg (Anderson, 1984). 
Berdasarkan  daftar  merah yang dikeluarkan IUCN tahun 2007, rusa sambar berstatus Lower Risk/Least Concern dan termasuk dalam spesies yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

      Warna bulu rusa sambar umumnya coklat dengan variasinya yang agak kehitaman (gelap) pada yang jantan atau yang telah tua.  Ekor agak pendek dan tertutup bulu yang cukup panjang.  Keadaan bulu termasuk kasar dantidak terlalu rapat.  Pada daerah leher bagian lateral, bulu membentuk suatu surai/malai (mane).  Perubahan warna bulu dari coklat cerah menjadi lebih gelap, khususnya padayang jantan dominan, sering terlihat bersamaan dengan masuknya pejantan ke musim kawin (Semiadi, 2004).

      Rusa sambar memperlihatkan masa reproduksinya  di tandai dengan tingkah laku yang lebih jinak dari pada  dalam keadaan biasanya.  Masa reproduksi pada rusa sambar betina terlihat antara bulan Juli hingga Agustus (Imelda, 2004).  Selang beranak antara yang pertama dan kedua berjarak satu tahun dua bulan, sedangkan lama kebuntingannya adalah  antara 250-285 hari (Ariantiningsih, 2000).  Di zona temperate, musim kawin rusa white-tailed (Odocoileus virginianus) sangat dipengaruhi oleh iklim, akan tetapi ruminansia ini dapat kawin sepanjang tahun jika hidup di kawasan tropis (Liet al., 2001).
B.      Habitat
       Habitat yang disukai adalah hutan yang terbuka atau padang rumput dan hidup pada berbagai ketinggian mulai dari dataran rendah sampai daerah pantai hingga ketinggian 2600 m di atas permukaan laut.  Pada semak belukar yang rapat, biasanya di gunakan sebagai tempat untuk berlindung dan bersembunyi (Ariantiningsih, 2000).

      Habitat alami rusa terdiri atas beberapa tipe vegetasi seperti savana yang dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan vegetasi hutan yang tidak terlalu rapat untuk tempat bernaung (istirahat), kawin, dan menghindarkan diri dari predator. Hutan sampai ketinggian 2.600 m diatas permukaan laut dengan padang rumput merupakan habitat yang paling disukai oleh rusa terutama jenis Cervus timorensis, kecuali Cervus unicolor yang sebagian besar aktivitas hariannya dilakukan pada daerah payau (Garsetiasih, dan Mariana 2007).

   Habitat penangkaran berbeda dengan habitat alami.  Berdasarkan ciri habitatnya, pada habitat penangkaran terdapat peningkatan nutrisi, bertambahnya persaingan intraspesifik untuk memperoleh makanan, berkurangnya pemangsaan oleh predator alami, berkurangnya penyakit dan parasit serta meningkatnya kontak dengan manusia (Grier dan Burk, 1992).  Selain itu penangkaran juga dapat meningkatkan produktifitas dan reproduksi rusa sambar karena dengan penangkaran akan pengukuran-pengukuran terhadap nilai satuan produksi dan reproduksi satwa yang didomestikasi.

Penelitian yang berkaitan dengan kehidupan Cervide khususnya Cervus elaphus telah berkembang di negara-negara maju (Sheely dan Vavra, 1996; Clarke et al., 1995; Homolka M., 1993; Langvatn dan Hanley, 1993 dan Bergstorm dan Donell, 1995).  Sedangkan penelitian tentang rusa dalam penangkaran khususnya untuk jenis Cervus timorensis Lyd dan Cervus unicolor sebagai spesies tropis khususnya yang ada di Indonesia masih sangat terbatas.  Untuk jenis Cervus timorensis Lyd telah dilakukan penelitian mengenai pola aktivitas harian selama 24 jam dan pola aktivitas makan oleh Lelono (1996 dan 2001).  Sedangkan pada Cervus unicolor kajiannya berkisar pada pola aktivitas makan, merumput dan pemilihan makan (Semiadi et al., 1993, 1994; House et al.,1995 dan Barry et al., 1995).

      Pakan merupakan komponen habitat yang paling penting, ketersediaan pakan berhubungan erat dengan perubahan musim, biasanya di musim hujan pakan berlimpah sedangkan di musim kemarau pakan berkurang.  Makanan pokok rusa adalah hijauan berupa daun-daunan dan rumput-rumputan yang ketersediaannya kadang-kadang terbatas terutama di penangkaran sehingga dibutuhkan pakan tambahan (Garsetiasih, dan Mariana 2007).  Namun guna mencapai produksi yang maksimal, penambahan konsentrat sebagai bentuk formulasi ransum pada makanan rusa merupakan satu usaha pemenuhan kebutuhan nutrisi yang berkorelasi pada peningkatan produksi dan juga satu bentuk usaha domestikasi rusa dari segi pakannya.

C.    Aktivitas Makan
      Menurut Semiadi et al., (1993) aktivitas makan pada rusa disebut grazing (merumput) didefinisikan sebagai aktivitas mencari dan memasukkan hijauan ke dalam mulut.  Apabila diamati dari pola aktif makan harian selama hari terang terdapat fluktuasi yang mengikuti aktivitas harian kawanan (Lelono, 1996 dan 2001) dimana terlihat tiga puncak utama yaitu pada pagi hari antara pukul 07.00 sampai 09.00, siang antara pukul 11.00 sampai 14.00 dan sore mulai pukul 17.00 sampai 18.00.  Menurut Clutton-Brook et al. (1982) dan Loudon dan Milne (1985) tingginya kebutuhan makan pada betina disebabkan karena betina yang merawat anak harus menyediakan air susu sebagai makanan pokok anak selain untuk kebutuhan metabolisme induk itu sendiri.

      Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suttie dan Simpson (1985) dan House et al. (1995) pada proses pertumbuhan rangga rusa merah (Cervus elaphus) ditemukan bahwa tingginya kebutuhan makan diperlukan terutama untuk mengoptimalkan pertumbuhan rangga dan tersedianya cadangan makanan yang cukup dalam bentuk jaringan lemak.  Cadangan lemak tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi yang penting selama masa kawin. Kondisi ini terjadi karena pada jantan yang sedang dalam masa berahi aktivitas makannya berkurang jauh dibanding sebelumnya.

D.    Aktivitas Istirahat
      Aktivitas istirahat atau resting memiliki beberapa kategori. Menurut Semiadi et al. (1993) aktivitas istirahat adalah aktivitas selain makan dan memamah biak.  Namun demikian definisi ini tidak menjelaskan pada posisi apa aktivitas iatirahat itu dilakukan.  Bisa jadi berpindahnya seekor rusa dari satu tempat ketempat lain disebut istirahat karena tidak sedang melakukan aktivitas makan atau memamah biak (Lelono, 2003).

     Aktivitas istirahat pada pagi hari lebih lama dan serentak dibandingkan sore hari, kondisi ini kemungkinan disebabkan cuaca yang terik oleh sinar matahari musim kemarau (Lelono, 2003).  Perilaku yang sama ditunjukkan pula pada rusa sambar (Semiadi et al., 1993) dimana spesies yang berasal dari daerah tropis memiliki penyesuaian khusus untuk mengurangi tekanan suhu atau thermoregulatory stress dengan mengurangi aktivitas makan pada siang hari dan menggantinya pada malam hari.

      Aktivitas istirahat pada pagi hari (09.00-11.00) dilakukan di daerah padang rumput segera setelah melakukan aktivitas makan bersamasama.  Kondisi ini ditandai dengan aktivitas istirahat bergerombol dengan jarak tiap individu yang tidak berjauhan.  Aktivitas yang dilakukan selama istirahat seringkali adalah memamah biak.  Hal ini berbeda pada sore hari (14.00-17.00) dimana individu-individu beristirahat dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berjauhan satu sama lain selain memamah biak beberapa diantaranya tidur untuk satu atau dua jam.  Pola aktivitas istirahat individual ini mengikuti pola umum kawanan dimana istirahat pagi dilakukan setelah aktivitas makan yaitu antara pukul 09.00 – 11.00 dan siang antara 14.00-17.00 (Lelono. 1996 dan 2001).

       Penelitian yang dilakukan oleh Semiadi et al. (1993) terhadap rusa sambar diketahui bahwa aktivitas istirahat dilakukan pada antara pukul 08.00-10.00 dan 13.00- 15.00.  Perbedaan ini dapat terjadi karena perbedaan iklim antara tropis dan sub tropis (New Zealand), namun demikian aktivitas istirahat pada pagi hari menampakkan kesamaan yang jelas.
E.     Aktivitas Lainnya
      Aktivitas lain didefinisikan sebagai aktivitas selain makan dan istirahat, misalnya berjalan, memelihara diri, merawat anak, bercumbu, bertarung, berlari dan lain-lain.  Salah satu aktivitas menonjol adalah kegiatan yang berkaitan dengan perilaku berbiak pada jantan dewasa seperti bertarung, baik dengan sesame jantan maupun sekedar mengasah rangga di batang pohon (Lelono, 2003).

        Berdasarkan pelelitian yang dilakukan oleh Rapley (1985), Semiadi et al. (1994) dan Suttie dan Simpson (1985) menunjukkan bahwa ada beberapa aktivitas penting yang dilakukan oleh jantan pada masa kawin seperti bercumbu, merawat diri, berlatih tanding, mengosokkan rangga ke batang kayu dan semak belukar, berjalan, berkelahi serta kawin.  Penanganan terhadap individu jantan yang memasuki masa birahi cukup penting mengingat perilaku agresif yang seringkali berakibat fatal.  Selama penelitian berlangsung diketahui adanya seekor jantan dewasa yang tewas ketika bertarung.  Dari pengamatan pada jantan yang telah cukup lama memasuki masa rangga keras tampak adanya tanda-tanda luka pada sekujur tubuh akibat perkelahian.

F.     Distribusi
       Rusa boleh ditemui di Semenanjung Malaysia, Borneo, Indonesia, Filipina, Thailand, Myanmar, Indochina, Sri Lanka, India hinggalah ke Nepal dan selatan China.  Rusa Sambar juga merupakan spesies yang mempunyai
aburan yang terbesar berbanding dengan spesies rusa yang lain.
G.    Sifat
      Rusa adalah termasuk kedalam hewan  nokturnal.  Ia mencari makan pada lewat petang dan malam dan berehat pada waktu siang.  Rusa sambar adalah spesies yang pandai berenang dan suka bermain air.  Tanduk rusa sambar tumbuh dan gugur pada setiap tahun.  Dalam musim mengawin, rusa jantan akan berlaga dengan jantan yang lain untuk merebut kawasan dan sekaligus menjadi ketua kumpulan kepada kumpulan rusa yang lain.  Dengan status dilindungi, dengan Akta 76/72: Diperlindungi

H.     Konservasi
      Konservasi sumber daya alam adalah kegiatan yang meliputi perlindungan, pengawetan, pemeliharaan, rehabilitas, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan (Alikondra, 1990).  Sedangkan menurut Salwasser (1994) konservasi yang paling sederhana adalah menjaga dan melindungi sumberdaya alam untuk mencegah terjadinya kehilangan suatu plasma nutfah.  Pada perkembangan selanjunya, konservasi sumberdaya alam tidak hanya melindungi beberapa spesies hewan atau tumbuhan yang menghasilkan sesuatu bagi manusia, tetapi dilihat pula perbeda dan fungsi dari ekosistem yang ada, sehingga dapat melestarikan juga berbagai kehidupan yang lain, baik yang diketahui maupun yang dama sekali tidak diketahui (Meffe dan Caroll, 1994).

       Perlindungan sistem penyangga kehidupan, yaitu dengan mengalokasikan kawasan konservasi baik pada pkawasan darat maupun kawasan peairan laut termasuk lahan basah.  Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, yaitu pemanfaatan berdasarkan rasionalisasi dengan tolok ukur terhadap kesembiangan ekologinya (Sugandhy, 1995).

Pengelolahan satwa liar merupakan bagian dari upaya konservasi satwaliar.  Menurut Alikondra (1990), konservasi satwaliar merupakan proses sosial yang bertujuan untuk memanfaatkan satwaliar dan memilihara satwaliar serta kelestarian produktivitas habitatnya.  Upaya keberhasilan konservasi ini sangat ditentukan oleh peran serta penggolahnya dalam berbagai kegiatan konservasi, keadaan organisasi dan adminitrasi pengelolaan, jumlah dan kualitas tugas, peran serta masyarakat serta peraturan perundang-undangan.

       Alikodra (1990) menyatakan bahwa konservasi satwaliar meliputi dua hal penting yang harus mendapat perhatian, yaitu pemanfaatan yang hati-hati dan pemanfaatan yang harmonis.  Pemanfaatan yang hati-hati berarti mencegah terjadinya penurunan produktifitas, bahkan menghindari sama sekali terjadinya kepunahan spesies.  Sedangkan pemanfaatan yang harmonis, berarti mempertimbangkan dan memperhitungkan kepentingan-kepentingan pihak lain, sehingga terjadi keselarasan dan keserasian dengan seluruh kegiatan baik lokal, regional maupun nasional bahkan dalam kaitannya dengan kepentingan konservasi satwaliar secara internasional.

Rusa sambar (cervus unicolor) merupakan ruminansia endemik yang terdapat di propinsi Bengkulu yang populasinya terus cenderung menurun dan menjadi langka, ini dibuktikan dengan sulit ditemukannya spesies ini di daerah lain.  Sebagaimana kita ketahui dengan terus meningkatnya penurunan populasi ini dan tanpa disertai upaya-upaya konservasi, maka akan menempatkan ruminansia endemik Bengkulu ini masuk dalam status terancam punah suatu saat nanti. Pada kawasan konservasi taman nasional kerinci seblat di propinsi Bengkulu rusa sambar menjadi ruminansia endemik yang dapat digolongkan sebagai plasma nutfah Indonesia yang populasinya terus.
 I.   Perilaku Sosial
       Suatu metode dalam mempelajari struktur sosial suatu kelompok adalah pada penekanan perilaku yang khas dari suatu individu kepada individu lain.  Sebagai contoh adalah perilaku induk kepada bayinya atau perilaku jantan dewasa kepada jantan lainnya (Chalmers, 1980).

       Menurut Hinde (1976) dalam Chalmers (1980)  mengatakan jika perilaku hewan atau satwa dianalisis dengan jalan deskripsi, maka analisis tersebut harus melalui lebih dari satu tahapan.
   Tahapan-tahapan yang dimaksudkan tersebut meliputi:
1)      interaksi sosial (Social Interactions).
2)      Hubungan-hubungan sosial (Social Relationships).
3)      Struktur sosial (Social Structure).

Tiga tahapan tersebut berhubungan satu sama lain dimana hubungan-  hubungan sosial diperoleh atas dasar kumpulan interaksi-interaksi sosial, dan begitu pula dengan struktur sosial yang disusun berdasarkan hubungan-hubungan sosialnya.  Menurut Richard (1985) mendefinisikan bahwa kelompok sosial suatu kumpulan satwa berinteraksi secara teratur, antar individu kenal satu sama lainnya, hampir seluruh waktunya digunakan untuk berdekatan dengan yang lainnya daripada dengan bukan anggotanya dan selalu akan menyerang pada individu yang bukan anggotanya.

Kemudian interaksi sosial didefinisikan sebagai satu set dari suatu adegan perilaku yang didalamnya terdapat komunikasi dianatara dua atau lebih dari individu-individu satwa yang melakukan interaksi tersebut merupakan anggota dari kelompok sosial yang sama dan saling mengenal satu sama lainnya. 

      Sedangkan hubungan sosial merupakan jumlah dari interaksi sosial diantara dua  individu dari waktu kewaktu  dan adapun struktur sosial adalah isi dan kualitas dari hubungan-hubungan sosial diantara anggota-amggota dari suatu kelompok sosial.  Struktur sosial dari suatu kelompok mungkin sederhana mungkin juga rumit, akan tetapi setiap individu diketahui status relatifnya terhadap individu lain (mungkin ia mempunyai posisi relatif sebagai menangan ”dominant” atau kalahan ”subordinate” terhadap individu lainnya).  Sedangkan status menunjukkan posisi relatif yang berhubungan anatar satu dengan yang lainnya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

1 komentar:

Astrini Ayundari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Poskan Komentar