INVENTARISASI HUTAN

Minggu, 26 Juni 2011




INVENTARISASI HUTAN
( Laporan Praktikum Biometrika  Hutan )







Oleh :
  1. Agung Wahyudi
  2. Danang Arif Maulana
  3. Rumiko Rivando
  4. Ricardo P Sinaga
  5. Marlica Tri Asmi
  6. Aprianita Pitri Ningrum
  7. Nurpine Nadeak
  8. Rega Renvilia
  9. Erviana Sari
  10. Rona Alvan
  11. M. Ali Muslih
  12. Rio Yudischa







JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2010



I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Hutan Indonesia sebagai kekayaan nasional mempunyai peranan yang sangat penting ditinjau dari aspek sosial dan lingkungan. Namun, data/informasi fisik dan ekonomis dari sumber daya ini tidak memadai. Dan suatu sistem informasi yang mendukung pengambilan keputusan di bidang investasi juga dirasakan terbatas. Untuk mengembangkan suatu dasar yang mantap bagi identifikasi sumber daya dan pengambilan kebijaksanaan serta penyiapan program-program pembangunan kehutanan, perlu dikembangkan suatu sistem Inventarisasi.

Salah satu sumber daya alam yang sangat besar manfaatnya bagi kesejahteraan manusia adalah hutan. Hutan juga merupakan modal dasar pembangunan nasional. Sebagai modal dasar pembangunan nasional, maka hutan terseut harus kita jaga kelestariannya agar kelak manfaat hutan ini tidak hanya kit nikmati sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan dating. Oleh sebab itu, sumber daya hutan ini perlu dikelola dengan baik dan tepat agar manfaat dan hasilnya dapat dikelola secara maksimal dan lestari.

Perencanaan yang tepat dan baik sangat diperlukan agar pelaksanaan pengelolaan hutan dapat berjalan lancar, sesuai yang kita harapkan, yaitu berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian, dimana hutan selalu ada, produksi selalu ada, dan kondisinya selalu baik. Diharapkan dengan adanya suatu perencanaan, maka hutan dapat diurus dan diusahakan dengan baik agar kelestarian hutan dapatterwujud. Inventarisasi hutan adalah kegiatan dalam sistem pengelolaan hutan untuk mengetahui kekayaan yang terkandung di dalam suatu hutan pada saat tertentu. Istilah inventarisasi hutan ini biasa juga disebut perisalahan hutan/timber cruising/timber estimation. Secara umum inventarisasi hutan didefenisikan sebagai pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai sumber daya hutan untuk perencanaan pengelolaan sumber daya tersebut bagi kesejahteraan masyarakat secara lestari dan serbaguna.
Berdasarkan tujuan penggunaan serta kedalaman dan cakupan data yang akan
Digunakan, inventarisasi hutan dibagi menjadi empat tingkatan yaitu:
1.      Inventarisasi hutan hasional
2.      Inventarisasi hutan untuk rencana pengelolaan
3.      Inventarisasi hutan unuk rencana operasional
4.      Inventarisasi hasil hutan non kayu.

Inventarisasi hutan untuk rencana pengelolaan adalah kegiatan inventarisasi pada tingkat unit atau sub-unit pengelolaan hutan, seperti bagian hutan, hak pengusahaan hutan, dan lainnya. Kegiatan inventarisasi hutan rencana pengelolaan meliputi kegiatan persiapan dan pelaksanaan, serta persiapan rencana kerja dan peta kerja.


B.     Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktkum ini adalah ebagai berikut:
1.      Untuk mendapatkan data dan informasi keadaan hutan  yang meliputi luas, lokasi dan taksiran potensi hutan.
2.      Untuk mengetahui kondisi tegakan yang ada pada lokasi praktikum.
3.      Untuk mengetahui keadaan vegetasi yang terdapat pada hutan tersebut.
4.      Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam melaksanakan kegiatan inventarisasi hutan.


























II. TINJAUAN PUSTAKA

Diameter adalah sebuah dimensi dasar dari sebuah lingkaran.  Diameter batang didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di sekeliling batang yang melalui titik pusat (sumbu) batang.
Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur terutama pada pohon bagian bawah.  Tetapi oleh karena bentuk batang yang pada umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah pohon akan dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai banyaknya titik dari pangkal batang hingga ke ujung batang.  Oleh karena itulah perlu ditetapkan letak pengukuran diameter batang yang akan menjadi ciri karakteristik sebuah pohon.  Atas dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada atau dbh (diameter at breast height) sebagai standar pengukuran diameter batang.  Sekurangnya ada tiga alasan mengapa diameter diukur pada ketinggian setinggi dada, : (1) alasan kepraktisan dan kenyamanan saat mengukur, yaitu pengukuran mudah dilakukan tanpa harus membungkuk atau berjingkat ; (2) pada kebanyakan jenis pohon ketinggian setinggi dada bebas dari pengaruh banir ; (3) dbh pada umumnya memiliki hubungan yang cukup erat dengan peubah-peubah (dimensi) pohon lainnya.
Selain mudah diperoleh/diukur, dbh juga merupakan dimensi pohon yang akurasi datanya paling mudah dikontrol.  Oleh karena itulah dbh lebih sering digunakan sebagai peubah penduga dimensi-dimensi pohon lainnya.
Dalam praktek pengukuran dbh, ketinggian setinggi dada ternyata terdapat perbedaan di antara beberapa negara :
1.  Negara dengan pengukuran sistem metrik, dbh = 1,30 m di atas permukaan tanah (dat).
2.  USA dan Kanada, dbh = 4 ft 6 in = 1,37 m dat.
3.  Inggeris dan beberapa negara persemakmuran (pengukuran sistem British), dbh = 4 ft 3 in = 1,29 m dat.
4.  Jepang, dbh = 4 ft 1,2 in = 1,25 m dat. (Bustomi, S. 1995)

Tinggi pohon didefinisikan sebagai jarak atau panjang garis terpendek antara suatu titik pada pohon dengan proyeksinya pada bidang datar.  Istilah tinggi pohon hanya berlaku untuk pohon yang masih berdiri, sedangkan untuk pohon rebah digunakan istilah panjang pohon.
Seperti sudah dijelaskan di muka, tinggi pohon adalah salah satu dimensi yang harus diketahui untuk menghitung nilai volume pohon.  Selain itu, peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang tersebar merata dalam areal 1 hektar, dikaitkan dengan umur tegakan jenis pohon tertentu adalah merupakan komponen informasi yang diperlukan untuk menentukan indeks tempat tumbuh atau kualitas tempat tumbuh (bonita) yang mencerminkan produktivitas lahan dalam memberikan hasil (potensi tegakan).
Pengukuran tinggi pohon pada umumnya menggunakan salah satu dari  dua prinsip berikut :
1.       Prinsip geometri atau prinsip segitiga sebangun.


http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/muhdin_files/image001.gif

                                 C                                     Gambar 1.  Prinsip Geometri dalam             O                  B                         E                            Pengukuran Tinggi
                                 A
                                                            D
Dari Gambar 1 di atas, apabila panjang alat (AC), AB dan DE diketahui, maka diperoleh tinggi pohon yaitu DF =  (AC/AB).DE
2.       Prinsip trigonometri atau prinsip pengukuran sudut.
Gambar 2. Prinsip Trigonometri dalam

                  Pengukuran Tinggi


http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/muhdin_files/image002.gif

                             ) β                                          
            O               ) α                         E
                                                      D                                                          
Dari Gambar 2 di atas, apabila jarak datar (OE), besar sudut kemiringan ke pangkal pohon (α) dan  besar sudut kemiringan ke puncak pohon (β) diketahui, maka diperoleh tinggi pohon yaitu DF =  DE + EF = OE (tg α + tg β)
Berdasarkan titik bagian atas yang diukur, tinggi pohon dibedakan atas : (1) Tinggi total, yaitu tinggi pohon sampai ke puncak tajuk ; (2) Tinggi bebas cabang, yaitu tinggi pohon sampai cabang pertama yang masih hidup.  Cabang yang dimaksud biasanya adalah cabang yang turut berperan dalam membentuk tajuk utama ; (3) Tinggi kayu tebal, yaitu tinggi pohon sampai batas diameter tertentu, biasanya sampai batas diameter 7 atau 10 cm.
Apabila terdapat hubungan yang erat antara dbh dengan tinggi pohon, maka secara fungsional tinggi pohon dapat diduga oleh dbh.  Cara ini dirasa lebih mudah dan praktis dibanding harus mengukur langsung tinggi pohon. (Elviadi,I. 1994)

Inventarisasi Hutan adalah kegiatan pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai sumber daya hutan untuk perencanan pengelolaan sumber daya tersebut. Tujuan inventarisasi hutan adalah untuk mendapatkan data yang akan diolah menjadi informasi yang dipergunakan sebagai bahan perencanaan dan perumusan kebijaksanaan strategis jangka panjang, jangka menengah dan  perasional jangka pendek sesuai dengan tingkatan dan kedalaman inventarisasi yang dilaksanakan.
Metode yang digunakan dalam inventarisasi hutan
adalah :
1. Inventarisasi Hutan Nasional dengan systematic sampling 20 km x 20 km, dan bisa dirapatkan menjadi 10 km x 10 km dan 5 km x 5 km.
2. Inventarisasi Hutan menggunakan metode Systematic Strip
Sampling with Random Start, dengan intensitas sampling :
- Inventarisasi dalam rangka pencadangan IUPHHK menggunakan metode intensitas sampling 0,3% (apabila belum tersedia hasil penafsiran citra landsat) dan 0,1% (apabila telah tersedia hasil penafsiran citra landsat) Inventarisasi dengan stratifikasi berdasarkan foto udara yang berkualitas baik : 0,05 %
- Inventarisasi dengan stratifikasi berdasarkan citra satelit TM/SPOT berkualitas baik (penutupan awan < 10 %) : 0,1 %.
- Inventarisasi dengan stratifikasi citra satelit kualitas kurang baik (penutupan awan > 10 %) : 0,3 %
- Inventarisasi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) terdiri dari :
● RKUPHH sampling dengan intensitas 1 %
● RKLUPHH sampling dengan intensitas 5 %
● RKTUPHH sensus 100 % (Latifa,S. 1994)

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.  Kawasan hutan perlu ditetapkan untuk menjamin kepastian hukum mengenai status kawasan hutan, letak batas dan luas suatu wilayah tertentu yang sudah ditunjuk sebagai kawasan hutan menjadi kawasan hutan tetap.
Penetapan kawasan hutan juga ditujukan untuk menjaga dan mengamankan keberadaan dan keutuhan kawasan hutan sebagi penggerak perekonomian lokal, regional dan nasional serta sebagai penyangga kehidupan lokal, regional, nasional dan global.
Kawasan Hutan Indonesia ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dalam bentuk Surat Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi. Penunjukan Kawasan Hutan ini disusun berdasarkan hasil pemaduserasian antara Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) dengan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).
Penunjukan kawasan hutan mencakup pula kawasan perairan yang menjadi bagian dari Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).
Kawasan hutan dibagi kedalam kelompok Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan Hutan Produksi dengan pengertian sebagai berikut :
  • Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
  • Hutan Lindung Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
  • Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.  Hutan produksi terdiri dari Hutan Produksi Tetap (HP) dan Hutan Produksi Terbatas (HPT). (Wiant, Jr.1988)
















III. METODE PRAKTIKUM


A.    Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kompas, Pita ukur untuk mengukur diameter pohon, Pita meter, Sunto untuk mengukur tinggi pohon, tali plastik, patok, seng ukuran 10cm x 5cm untuk inventarisasi pohon, paku, palu, alat tulis, dan Tally sheet. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pohon – pohon yang terdapat di Tahura Wan Abdul Rahman yang masuk ke dalam plot.

B.     Cara Kerja

1.      Membuat plot permanen berbentuk segi empat sebanyak tiga plot berukuran panjang 100m dan lebar 100m pada lahan seluas tiga hektar, tiap plot mewakili lahan seluas satu hektar. Plot tersebut untuk pengamatan fase pohon,
2.      Membuat plot segi empat berukuran 2m x 2m di dalam plot 100m x 100m tersebut untuk pengamatan fase semai,
3.      Membuat plot 5m x 5m di dalam plot 100m x 100m tersebut untuk pengamatan fase pancang,
4.      Membuat plot 10m x 10m di dalam plot 100m x 100m tersebut untuk pengamatan fase tiang.
5.      Membagi tiap plot 100m x 100m tersebut menjadi dua bagian yaitu plot 1 dan plot 2 kemudian menginventarisasi pohon – pohon yang terdapat pada plot satu dengan memaku seng dengan nama Pt1PO01 pada pohon pertama yang ditemukan, Pt1PO02 pada pohon kedua, dan seterusnya. Begitu pula pada plot kedua untuk pohon pertama yang ditemukan diberi plang seng dengan nama Pt2PO01, dan seterusnya.
6.      Mencatat nama dan nomor plang seng tiap pohon, kemudian mengukur tingginya menggunakan Sunto dan mengukur diameternya menggunakan pita ukur. Catat pada tally sheet,
7.      Mencatat tumbuhan bawah dan nama semai yang terdapat pada plot 2m x 2m pada tally sheet,
8.      Mencatat nama pohon pada fase pancang yang terdapat pada plot 5m x 5m ke dalam tally sheet,
9.      Mencatat nama pohon pada fase Tiang yang terdapat pada plot 10m x 10m ke dalam tally sheet,
10.  Mencatat Nama tanaman dan rerumputan yang terdapat pada plot 100m x 100m tersebut.


C.    Waktu dan Lokasi Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal       : Sabtu / 8 Mei 2010
Waktu                   : 08.00 WIB s/d selesai
Lokasi                   : Tahura Wan Abdul Rahman, Kemiling Bandar Lampung.














IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

  • Tabel data inventarisasi pohon di Hutan Pendidikan Unila Tahura
No
Pohon
Nama Ilmiah
D(cm)
Tinggi (sudut)
kode
lokasi

Ujung pohon
Ujung galah
Pangkal galah
Jarak(m)

PLOT 1

1.
sonokeling
Dalbergia latifolia
40.45
60
10
-25
8
Pt3P001
Plot 1

2.
sonokeling
Dalbergia latifolia
68.47
75
50
15
6
Pt1P002
Plot 1

3.
sonokeling
Dalbergia latifolia
50
60
10
-25
9
Pt1P003
Plot 1

4.
Durian
Dorio zybethinus
60.51
55
15
-15
17
Pt1P004
Plot 1

5.
Pohon X
-
54.14
60
15
-14
15
Pt1P005
Plot 1

6.
sonokeling
Dalbergia latifolia
44.59
55
8
-23
16
Pt1P006
Plot 1

7.
sonokeling
Dalbergia latifolia
41.40
65
11
-20
17
Pt1P007
Plot 1

8.
sonokeling
Dalbergia latifolia
53.50
55
13
-18
18
Pt1P008
Plot 1

9.
sonokeling
Dalbergia latifolia
26.11
60
14
-19
19
Pt1P009
Plot 1

10.
sonokeling
Dalbergia latifolia
65.92
55
12
-25
12
Pt1P010
Plot 1

11.
sonokeling
Dalbergia latifolia
67.83
50
10
-21
11
Pt1P011
Plot 1

12.
Pohon Y
-
21.97
65
11
-17
10
Pt1P012
Plot 1

13.
Durian
Dorio zybethinus
24.52
55
14
-19
13
Pt1P013
Plot 1

14.
Pohon Y
-
29.94
55
9
-18
14
Pt1P014
Plot 1

15.
Karet
Havea brasiliensis
40.76
65
10
-22
18
Pt1P015
Plot 1

16.
Durian
Dalbergia latifolia
27.07
65
11
-23
19
Pt1P016
Plot 1

17.
Durian
Dalbergia latifolia
43.63
50
9
-19
20
Pt1P017
Plot 1

18.
Karet
Havea brasiliensis
50.95
60
8
-17
22
Pt1P018
Plot 1

19.
Durian
Dalbergia latifolia
28.66
55
12
-23
15
Pt1P019
Plot 1

20.
Karet
Havea brasiliensis
46.5
55
10
-20
14
Pt1P020
Plot 1

21.
Karet
Havea brasiliensis
40.76
60
11
-19
13
Pt1P021
Plot 1

22.
Durian
Dalbergia latifolia
38.53
55
9
-21
12
Pt1P022
Plot 1

23.
Karet
Havea brasiliensis
50.9
50
12
-20
10
Pt1P023
Plot 1

24.
Durian
Dalbergia latifolia
40.45
60
10
-21
9
Pt1P024
Plot 1

25.
Durian
Dalbergia latifolia
49.68
50
11
-23
10
Pt1P025
Plot 1

26.
Durian
Dalbergia latifolia
50.9
55
10
-24
10
Pt1P026
Plot 1

27.
Asam jawa
Tamarindus indica
79.62
65
10
-20
8
Pt1P027
Plot 1

PLOT 2




28
Durian
Durio zybethius
32.17
74
9
3
6
Pt2P001
Plot 2

29
Kemiri
Aleurites moluccana
20.38
67
5
20
4
Pt2P002
Plot 2

30
Kemiri
Aleurites moluccana
20.06
58
4
20
5
Pt2P003
Plot 2

31
Kemiri
Aleurites moluccana
51.60
60
6
10
8
Pt2P004
Plot 2

32
Kemiri
Aleurites moluccana
28.98
40
-15
5
6
Pt2P005
Plot 2

33
Kemiri
Aleurites moluccana
21.66
70
-8
-4
7
Pt2P006
Plot 2

34
Kemiri
Aleurites moluccana
54.14
60
-0
-3
5
Pt2P007
Plot 2

35
Durian
Durio zybethius
24.84
45
-15
4
9
Pt2P008
Plot 2

36
Kemiri
Aleurites moluccana
50.36
65
-10
0
7
Pt2P009
Plot 2

37
Alpukat
Persea americana
22.61
70
-3
5
5
Pt2P010
Plot 2

38
Kemiri
Aleurites moluccana
72.0
75
0
13
8.5
Pt2P011
Plot 2

39
Alpukat
Persea americana
44.27
65
-3
10
7.5
Pt2P012
Plot 2

40
Alpukat
Persea americana
35.99
50
-7
5
7.5
Pt2P013
Plot 2

41
Randu
Ceiba pentandra
55.73
60
-10
0
9
Pt2P014
Plot 2

42
Jambu air
Eugenia malaccensis
39.17
43
-10
0
6.5
Pt2P015
Plot 2

43
Karet
Havea brasiliensis
23.89
75
-7
10
4
Pt2P016
Plot 2

44
Alpukat
Persea americana
21.66
50
0
10
8
Pt2P017
Plot 2

45
Randu
Ceiba pentandra
41.40
58
-10
0
7
Pt2P018
Plot 2

46
X
-
41.40
70
-8
-4
7
Pt2P019
Plot 2

47
Johar laut
Cassia siamea
28.03
70
-19
5
6
Pt2P020
Plot 2

48
X
-
20.38
65
-10
0
6.5
Pt2P021
Plot 2

49
Alpukat
Persea americana
28.34
50
-10
0
7
Pt2P022
Plot 2

50
X
-
23.57
75
-10
0
7
Pt2P023
Plot 2

51
Alpukat

26.75
75
-4
0
4
Pt2P024
Plot 2

52
X
-
45.22
60
0
10
6
Pt2P025
Plot 2

53
Durian
Durio zybethius
52.44
58
1
8
15
Pt2P026
Plot 2

54
X
-
54.45
72
4
6
6
Pt2P027
Plot 2

55
Alpukat
Persea americana
25.15
60
-10
10
5
Pt2P028
Plot 2

56
Alpukat
Persea americana
24.84
58
1
8
10
Pt2P029
Plot 2

57
Randu
Ceiba pentandra
71.66
70
0
6
9
Pt2P030
Plot 2

58
Durian
Durio zybethius
27.07
75
0
10
8
Pt2P031
Plot 2

59
Alpukat
Persea americana
22.92
45
10
0
8
Pt2P032
Plot 2

60
Durian
Durio zybethius
33.43
70
4
6
6
Pt2P033
Plot 2

61
Randu
Ceiba pentandra
79.62
65
5
10
6
Pt2P034
Plot 2

62
Alpukat
Persea americana
37.89
60
-5
10
5
Pt2P035
Plot 2

63
Durian
Durio zybethius
27.38
35
-6
5
8
Pt2P036
Plot 2

64
Kemiri
Aleurites moluccana
65.60
80
-10
-5
7
Pt2P037
Plot 2

65
Kemiri
Aleurites moluccana
70.38
70
-9
3
15
Pt2P038
Plot 2

66
Kemiri
Aleurites moluccana
64.01
70
5
-5
9
Pt2P039
Plot 2

67
Kemiri
Aleurites moluccana
47.77
50
0
-6
14
Pt2P040
Plot 2

68
Durian
Durio zybethius
40.76
58
1
8
15
Pt2P041
Plot 2

69
Kemiri
Aleurites moluccana
54.14
70
5
-5
8
Pt2P042
Plot 2

70
Durian
Durio zybethius
40.76
70
-5
-5
8
Pt2P043
Plot 2

71
Durian
Durio zybethius
45.67
50
1
8
9
Pt2P044
Plot 2

72
Melinjo
Gnetum gnemon
26.75
60
5
10
5
Pt2P045
Plot 2

73
Pete
Parkia speciosa
28.03
73
-20
15
5
Pt2P046
Plot 2

74
Alpukat
Persea americana
20.38
60
-10
10
5
Pt2P047
Plot 2

75
Alpukat
Persea americana
34.71
70
-5
10
3
Pt2P048
Plot 2

76
Y
-
28
60
0
5
4
Pt2P049
Plot 2

77
Alpukat
Persea americana
27.1
70
-10
0
5
Pt2P050
Plot 2

78
Alpukat
Persea americana
21.02
75
5
5
5
Pt2P051
Plot 2

79
Alpukat
Persea americana
32.80
65
5
10
6
Pt2P052
Plot 2

80
Alpukat
Persea americana
22.92
60
-5
5
6
Pt2P053
Plot 2

81
Alpukat
Persea americana
36.3
55
-23
15
9
Pt2P054
Plot 2

82
Alpukat
Persea americana
28.02
60
-34
15
3
Pt2P055
Plot 2

83
Alpukat
Persea americana
23.56
60
-23
-5
7
Pt2P056
Plot 2

84
Alpukat
Persea americana
24.26
55
-23
15
9
Pt2P057
Plot 2

85
Durian
Durio zybethius
28.34
65
5
10
6
Pt2P058
Plot 2

PLOT 3

86
Mangga
Mangifera indica
38.22
70
0
10
4
Pt3P001
Plot 3

87
Mangga
Mangifera indica
36.62
65
0
15
3
Pt3P002
Plot 3

88
Mangga
Mangifera indica
38085
75
0
15
3
Pt3P003
Plot 3

89
Durian
Durio zybethinus
20.06
80
0
20
2
Pt3P004
Plot 3

90
Durian
Durio zybethinus
37.26
60
0
10
5
Pt3P005
Plot 3

91
Pohon x
-
32.80
75
0
15
4
Pt3P006
Plot 3

92
Nangka
Artocarpus integra
25.80
80
0
20
5
Pt3P007
Plot 3

93
Nangka
Artocarpus integra
33.44
70
0
15
4
Pt3P008
Plot 3

94
Mangga
Mangifera indica
33.44
60
0
15
4
Pt3P009
Plot 3

95
Mangga
Mangifera indica
30.90
60
0
15
4
Pt3P010
Plot 3

96
Asem jawa
Tamarindus indica
35.99
75
0
10
6
Pt3P011
Plot 3

97
Nangka
Artocarpus integra
37.26
80
0
10
4
Pt3P012
Plot 3

98
Nangka
Artocarpus integra
27.07
80
0
40
2
Pt3P013
Plot 3

99
Asem jawa
Tamarindus indica
38.85
70
0
10
7
Pt3P014
Plot 3

100
Kemiri
Aleurites moluccana
34.40
45
0
20
5
Pt3P015
Plot 3

101
Asem jawa
Tamarindus indica
43.31
80
0
15
6
Pt3P016
Plot 3

102
Kemiri
Aleurites moluccana
25.48
50
0
10
7
Pt3P017
Plot 3

103
Waru
Hibiscus abelmoscus
25.48
-
0
-
-
Pt3P018
Plot 3

104
Waru
Hibiscus abelmoscus
24.20
-
0
-
-
Pt3P019
Plot 3

105
Waru
Hibiscus abelmoscus
24.84
-
0
-
-
Pt3P020
Plot 3

106
Pohon x
-
26.11
-
0
-
-
Pt3P021
Plot 3

107
Pohon y
-
29.30
-
0
-
-
Pt3P022
Plot 3

108
Nangka
Artocarpus integra
26.43
-
0
-
-
Pt3P023
Plot 3

109
Waru
Hibiscus abelmoscus
2803
-
0
-
-
Pt3P024
Plot 3

110
Alpukat
Persea americana
30.89
-
0
-
-
Pt3P025
Plot 3

111
Pohon z
-
32.80
-
0
-
-
Pt3P026
Plot 3

112
Pohon z
-
26.75
-
0
-
-
Pt3P027
Plot 3

113
Pohon z
-
25.48
-
0
-
-
Pt3P028
Plot 3

114
Pohon z
-
44.59
-
0
-
-
Pt3P029
Plot 3

115
Waru
Hibiscus abelmoscus
27.71
-
0
-
-
Pt3P030
Plot 3

116
Waru
Hibiscus abelmoscus
26.75
-
0
-
-
Pt3P031
Plot 3

117
Waru
Hibiscus abelmoscus
25.16
-
0
-
-
Pt3P032
Plot 3

118
Pohon a
-
24.52
-
0
-
-
Pt3P033
Plot 3

119
Pohon b
-
28.86
-
0
-
-
Pt3P034
Plot 3




























  • Tabel pada fase semai, tiang dan pancang
No plot
Fase
Pancang
Tiang
semai
Plot 1
-
Kemiri (Aleurites moluccana)
-

X


Kemiri (Aleurites moluccana)


x

Plot 2
Sonokeling (Dalbergia latifolia)
Alpukat (Persea Americana)
Sonokeling (Dalbergia latifolia)

Alpukat (Persea Americana)
Coklat

Alpukat (Persea Americana)


Karet (Havea brasiliensis)


Karet (Havea brasiliensis)


Karet (Havea brasiliensis)


Cengkeh

Plot 3
Karet (Havea brasiliensis)
Durian (Durio zybethius)
Sonokeling (Dalbergia latifolia)







V.  KESIMPULAN

Dari pelaksanaan praktikum dapat disimpulkan bahwa:
1.       Lokasi pelaksanaan praktikum terdapat pada tiga zona yaitu zona inti, zona penyangga, zona pemanfaatan, yang mana tiap zona diwakili satu plot permanen dengan luas 1 ha. Tiap zona memiliki keadaan/potensi yang berbeda sesuai dengan pemanfaatan dan fungsi masing-masing.
2.      Adapun jumlah total pohon secara keseluruhan (tiga plot) yaitu 119 batang pohon. Pada plot tiga yang mendominasi adalah pohon waru dengan jumlah 34 batang waru, plot dua yang dominan adalah poho alpukat dan durian dengan jumlah 58.
3.      Keadaan vegetasi pada lokasi praktikum bagus, pada plot tiga lahannya tidak dikelola oleh masyarakat karena khusus untuk perlindungan. Sedangkan plot satu dan dua dikelola oleh masyarakat. Adapun tanaman yang terdapat seperti coklat, kemiri, pisang, pete, kopi, cengkeh,durian, karet. Tanaman yang mendominasi sekaligus penghasilan untama masyarakat adalah tanaman coklat.
4.      Dengan adanya praktikum di tahura ini, praktikan dapat lebih paham dalam pelaksanaan inventarisasi karena langsung terjun kelapangan dengan lahan yang lebih luas.










DAFTAR PUSTAKA

BUSTOMI, S.  1995.  Penggunaan Centroid Volume dalam Menduga Volume Kayu Bulat Pinus, Pinus merkusii Jungh. Et de Vries.  Thesis pada Program Pascasarjana IPB.  Bogor.  (unpublished).

ELVIADI, I. 1994.  Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen Kelompok Ramin, Gonistylus spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume Sortimennya.  Studi Kasus di Areal HPH PT Inhutani III Sampit Kalimantan Tengah.  Skripsi pada Fakultas Kehutanan IPB.  Bogor.  (unpublished).

LATIFAH, S. 1994.  Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen Kelompok Meranti Merah, Shorea spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume Sortimennya.  Studi Kasus di Areal HPH PT Inhutani III Sampit Kalimantan Tengah.  Skripsi pada Fakultas Kehutanan IPB.  Bogor.  (unpublished).

MUHDIN.  1997.  Analyzing Some Formulae of Log Volume Estimation on Log of Meranti.  Post Graduate Thesis.  Faculty of Forestry and Ecological Sciences.  Georg-August-University Gottingen.  Germany. (unpublished)

WIANT, Jr.  1988.  Where is the Optimum Height for Measuring Tree Diameter ?.  North J. Appl. For. 5 : 184-185

www.google.com. Inventarisasi hutan/ 12 Mei 2010 /23.00 WIB



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar