SIFAT MAKROSKOPIS KAYU ( Laporan Praktikum Ilmu Kayu )

Sabtu, 04 Juni 2011






SIFAT MAKROSKOPIS KAYU
( Laporan Praktikum Ilmu Kayu )










Oleh

Rumiko Rivando                   0814081062
Agung Wahyudi                    0814081003
Andi Fernandes                     0614081001
Yanche Nova Ria M                         0614081014
Dianita Ratna M                   0614081028


















JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
 2009



I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kayu adalah bagian keras tanaman yang digolongkan kepada pohon dan semak belukar.Bidang orientasi kayu adalah bidang pembantu yang diperlukan dalam pengenalan kayu sehingga diperoleh kesan yang sebenarnya dari sifat-sifat atau tanda-tanda yang diperlukan untuk pengenalan. Untuk memperoleh bidang-bidang orientasi yang tepat perlu diperhatikan hal-hal berikut :
a.       Sumbu vertikal atau aksial batang yaitu sumbu batang yang dibuat melalui empulur batang.
b.      Bidang potongan lintang adalah bidang yang dihasilkan apabila batang kayu dipotong tegak lurus pada sumbu vertikal batang.
c.       Bidang potongan radial adalah bidang yang dihasilkan apabila batang kayu dibelah menurut garis sumbu vertikal batang,sehingga sumbu aksial batang tersebut seluruhnya berada didalam bidang potongan tersebut.
Metode pengenalan kayu secara praktis adalah suatu metode pengenalan kayu berdasarkan kepada sifat-sifat struktur anatominya. Struktur anatomi suatu jenis kayu adalah merupakan sifat yang objektif, yang secara konstan terdapat di dalam kayu. Sifat-sifat objektif kayu yang sudah jelas dilihat dan diamati hanya dengan mata telanjang atau dibantu dengan lup ( biasanya mempunyai pembesaran 10 kali ), disebut sifat makroskopis kayu.
Sifat makroskopis jika diperhatikan lebih jauh dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
a.       Sifat makroskopis non-struktural : sifat-sifat yang tidak ada atau sedikit sekali hubungannya dengan struktur dan jaringan kayu.
b.      Sifat makroskopis struktural : sifat-sifat yang langsung berhubungan dengan struktur dan jaringan kayunya.
Sedangkan yang dimaksud sifat higroskopis kayu adalah kemampuan kayu untuk menghisap atau mengeluarkan air,yang tergantung pada kelembapan udara disekelilingnya. Sehingga banyaknya air di dalam kayu selalu berubah-ubah menurut keadaan sekelilingnya. Berat jenis kayu merupakan rasio antara kerapat kayu dengan kerapatan air pada suhu 4 derajat celsius ( rasio antara berat kayu pada volume tertentu dengan berat air pada suhu 4 derajat celsius pada volume yang sama dengan kayu yang bersangkutan ). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berat kayu adalah :
·         Kerapatan struktur dasar kayu
·         Kadar air
·         Mineral dan zat ekstraktif ( jenis-jenis tertentu ).





B.  Tujuan
      Adapun tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah agar mahasiswa :
1)      Dapat menentukan bidang orientasi kayu
2)      Dapat mengamati elemen-elemen dan tanda-tanda pada ketiga orientasi tersebut,sehingga dapat diperoleh bayangan atau tiga dimensi dari sel-sel atau tanda-tanda struktural yang terdapat di dalam kayu
3)      Dapat memahami dan membedakan sifat makroskopis non struktural dan struktural kayu.
4)      Dapat mengenal berbagai jenis kayu melalui sifat makroskopis non struktural dan struktural yang dimiliki masing-masing jenis kayu.
5)      Dapat memahami sifat mikroskopis kayu.
6)      Dapat mengenal berbagai jenis kayu melalui sifat mikroskopis kayu yang dimiliki masing-masing jenis kayu.
7)      Dapat menentukan kadar air kayu dalam kondisi basah dan  kering udara.
8)      Dapat menentukan perubahan dimensi kayu akibat pengeringan.
9)      Dapat mengidentifikasi jenis cacat pada kayu yang terjadi akibat penyusutan selama proses pengeringan.
10)  Dapat menentukan berat jenis kayu pada kondisi basah,kering,udara dan kering tanur.
11)  Dapat mengelompokan kayu ke dalam kelas kekuatan kayu berdasrkan berat jenisnya.





II. METODE PRAKTIKUM


A.  Alat dan Bahan

      Bahan yang diperlukan untuk praktikum kali ini adalah contoh kayu dari berbagai jenis yang sudah teridentifikasi/
      Alat-alat yang diperlukan meliputi :
§  Lembar pengamatan mahasiswa
§  Buku gambar
§  Pisau/cutter
§  Kaca pembesar/lup dengan pembesaran 10 kali
§  Mikroskop
§  Alat tulis
§  Dua buah contoh kayu yang masih segar/basah dengan ukuran panjang x lebar x tebal = ( 10x3x3 )cm
§  Timbangan
§  Oven
§  Kaliper



B.  Prosedur Kerja

      Hal-hal yang harus dikerjakan dalam praktikum materi ini meliputi :

o        Bidang orientasi kayu
1)      Tentukan arah vertikal dari sel-sel penyusunan contoh kayu.
2)      Tentukan bidang potongan lintang dengan memotong contoh kayu tegak lurus pada sumbu vertikal batang.
3)      Tentukan arah jari-jari kayu..
4)      Tentukan bidang potongan radial dengan memotong contoh kayu sejajar dengan jari-jari kayu.
5)      Tentukan bidang potongan tangensial dengan memotong contoh kayu tegak lurus dengan jari-jari kayu.
6)      Gambarkan ketiga bidang orientasi kayu tersebut pada buku gambar.

o   Sifat makroskopis kayu
1)      Amati warna,corak,tekstur,arah serat,kilap,bau,kekerasan dari contoh kayu. Hasil pengamatan ditulis ke dalam lembar pengamatan.
2)      Tentukan bidang potongan lintang,tangensial,dan radial dari contoh kayu.
3)      Sayat pemukaan kayu pada ketiga bidang potong tersebut selicin-licinnya dengan pisau/cutter, agar sifat-sifat anatominya dapat dengan mudah diamati.
4)      Amati lingkaran tumbuh, pori/pembuluh,parenkim,jari-jari,dan saluran getah/damar dengan menggunakn lup.Hasil pengamatan di tulis pada lembar pengamatan.
5)      Gambarkan hasil pengamatan pada ketiga bidang potong tersebut pada buku gambar.

  • Sifat mikroskopis kayu
1)      Amati lingkaran tumbuh, pori/pembuluh, parenkim,jari-jari,dan saluran getah/damar dengan menggunakan mikroskop. Hasil pengamatan di tulis ke dalam lembar pengamatan.
2)      Gambarkan hasil pengamatan pada ketiga bidang potong tersebut pada buku gambar.

o                      Sifat fisis kayu
1)      Setiap kelompok wajib membawa dua buah contoh kayu ( dari jenis yang berbada ) yang masih segar/basah dengan ukuran panjang x lebar x tebal = (10 x 3 x 3 ) cm.
2)      Timbang contoh kayu untuk mengetahui berat kayu pada kondisi basah,dan ukur dimensinya.
3)      Keringkan contoh kayu pada kondisi kering udara selama satu minggu , kemudian timbang untuk mengetahui berat kayu pada kondisi kering udara ( dicatat sebagai berat kering udara=BKU );dan ukur dimensinya ( volume kering udara = panjang x lebar x tebal ),serta amati cacat yang terjadi.
4)      Keringkan contoh kayu dalam oven selama 2 x 24 jam pada temperatur 103+- derajat celcius, kemudian timbang untuk mengetahui berat kayu pada kondisi kering oven ( dicatat sebagai berat kering tanur = BKT ) dan ukur dimensinya serta amati cacat yang terjadi.
5)      Hitung kadar air kayu pada kondisi basah ( dicatat sebagai KA basah ) dengan rumus :
KA basah = BB-BKT/BKT x 100 %
6)      Hitung kadar air kayu pada kondisi kering udara ( dicatat sebagai KA kering udara ) dengan rumus:
KA kering udara = BKU-BKT/BKT  x 100%
7)      Hitung persen penyusutan dimensi melalui cara perhitungan sebagai berikut :
a.       dari kondisi basah ke kering udara:
penyusutan panjang ( P )   = P basah – P kering udara/ P basah x 100%
                  penyusutan lebar (L)         = Lbasah – L kering udara / L basah x 100%
                  penyusutan tebal ( T )       = T basah – T kering udara/T basah x 100%
                  penyusutan volume ( V )   = V basah – V kering udara/V basah x 100%
      b.   dari kondisi basah ke kering tanur :
penyusutan panjang ( P )   = P basah – P kering tanur/ P basah x 100%
                  penyusutan lebar (L)         = Lbasah – L kering tanur / L basah x 100%
                  penyusutan tebal ( T )       = T basah – T kering tanur /T basah x 100%
                  penyusutan volume ( V )   = V basah – V kering tanur /V basah x 100%
8)      Hitung berat jemis kayu pada kondisi basah ( dicatat sebagai BJ basah ) dengan humus :
            BJ basah = BKT / V basah x p air             p air = 1gr/cm kubik
9)      Hitung berat jenis kayu pada kondisi kering udara ( dicatat sebagai BJ kering udara ) dengan humus sebagai berikut :
                  BJ kering udara = BKT / V kering udara x p air
10)  Hitung berat jenis kayu pada kondisi kering tanur ( dicatat sebagai BJ kering tanur) dengan humus sebagai berikut :
                  BJ kering tanur = BKT / V kering tanur x p air
11)  Tentukan kelas kekuatan kayu dari contoh kayu berdasrkan tabel berikut :
Kelas kuat
BJ kering udara
Keteguhan lentur mutlak ( kg/cm2 )
Keteguhan tekan mutlak ( kg/cm2)


I
> 0,90
> 1100
> 650

II
0,60-0,90
725-1100
425-650

III
0,40-0,60
500-725
300-425

IV
0,30-0,40
360-500
215-300

V
<0,30
< 360
<215

           





















III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.  Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada bidang orientasi kayu adalah berupa gambar yang terdapat pada lampiran. Adapun hasil pengamatan dari praktikum kali ini adalah :

Tabel Pengamatan 1. Warna dan Corak

No
Jenis Kayu
Warna
Corak
Putih
Kuning
Coklat
Merah
Ungu
Hitam
Kelabu
Polos
Bercorak
1
Sawo kecik


V

V


V

2
Afrika


V




V

3
Kolaka


V




V

4
Rasamala




V


V

5
Saga


V





V
6
Akasia






V
V

7
Bintangur


V





V
8
Agatis


V




V

9
Puspa






V
V

10
Pinus

V





V

11
Jati


V





V
12
Palapi


V





V
13
Bongin


V





V
14
Sungkai

V
V




V

15
Meranti merah

V
V





V
16
Mahoni


V




V

17
Merbau


V




V

18
Mindi

V
V





V
19
Dahu


V


V


V
20
Bangkirai


V




V




Tabel Pengamatan 2. Tekstur dan Arah Serat

No
Jenis Kayu
Tekstur
Arah Serat
Halus
Sedang
Kasar
Lurus
Terpadu
Berombak
Terpilin
1
Sawo kecik
V



V


2
Afrika

V

V



3
Kolaka

V

V



4
Rasamala

V

V



5
Saga

V


V


6
Akasia

V


V


7
Bintangur


V


V

8
Agatis
V



V


9
Puspa

V

V



10
Pinus
V





V
11
Jati
V


V



12
Palapi


V

V


13
Bongin

V


V


14
Sungkai

V

V



15
Meranti merah

V



V

16
Mahoni
V



V


17
Merbau
V


V



18
Mindi


V

V


19
Dahu

V

V



20
Bangkirai
V


















Tabel Pengamatan 3. Kilap dan Bau

No
Jenis Kayu
Kilap
Bau
Kusam
Agak
Mengkilap
Harum
Bahan
Damar
Lainnya
mengkilap
Penyamak
1
Sawo kecik

V





2
Afrika

V





3
Kolaka

V





4
Rasamala

V





5
Saga

V





6
Akasia

V





7
Bintangur
V






8
Agatis
V






9
Puspa
V






10
Pinus


V




11
Jati


V




12
Palapi

V





13
Bongin


V




14
Sungkai

V





15
Meranti merah
V






16
Mahoni


V




17
Merbau


V




18
Mindi
V






19
Dahu
V






20
Bangkirai


V






Tabel Pengamatan 4. Kekerasan

No
Jenis Kayu
Lunak
Sedang
Keras
1
Sawo kecik


V
2
Afrika
V


3
Kolaka


V
4
Rasamala

V

5
Saga

V

6
Akasia
V


7
Bintangur
V


8
Agatis


V
9
Puspa


V
10
Pinus
V


11
Jati

V

12
Palapi
V


13
Bongin


V
14
Sungkai


15
Meranti merah

 V

16
Mahoni
 V


17
Merbau

V

18
Mindi
V


19
Dahu
V


20
Bangkirai


V




Tabel pengamatan 5. lingkaran tumbuh serta penyebaran, pengelompokan, penyusunan dan isi pori/pembuluh.

No
Jenis kayu
Lingkaran tumbuh
Penyebaran kayu
Pengelompokan pori
Penyusunan pori
isi pori


jelas
Tidak jelas
Tata baur
Tata lingkar
Kelompok radial
kelompok miring
Gerombol
Soliter
Pasangan pori
Gabungan radial
Gabungan tangensial
Tilosys/amorf

1
Sawo kecik













2
Afrika













3
Kolaka













4
Rasamala













5
Saga













6
Akasia













7
Bintangur













8
Agatis













9
Puspa













10
Pinus













11
Jati













12
Palapi













13
Bongin
 V

  V


 V

 

  V

 amorf

14
Sungkai
 


  V

 V




  V
 tylosis

15
Meranti merah

 V
 V

 V
 V

 V
 V


 tylosis

16
Mahoni
 V

 V

 V


 V
 V
 V



17
Merbau













18
Mindi













19
Dahu













20
Bangkirai




















B.  Pembahasan
Penampilan sifat makroskopis kayu berbeda-beda menurut bidang orientasinya, lihat pada gambar :
Yang dimaksud bidang orientasi kayu adalah bidang pembantu yang diperlukan dalam pengenalan kayu sehingga diperoleh kesan yang sebenarnya dari sifat-sifat atau tanda-tanda yang diperlukan untuk pengenalan. Adapun kaitannya antara penampang lintang dengan sifat makroskopis kayu adalah pada penampang lintang akan ditemukan garis-garis konsentris bisa nyata atau kurang nyata dan memusat pada empulur. Garis-garis konsentris ini disebut sebagai lingkaran tumbuh ( growth ring ) yang terjadi sehubungan dengan mekanisme pertumbuhan pohon. Dan hal ini merupakan sifat makroskopis struktural kayu.
Untuk mengenal/menentukan suatu jenis kayu, tidak selalu dilakukan dengan cara memeriksa kayu dalam bentuk log (kayu bundar), tetapi dapat dilakukan dengan memeriksa sepotong kecil kayu.  Penentuan jenis kayu dalam bentuk log, pada umumnya dengan cara memperhatikan sifat-sifat kayu yang mudah dilihat seperti penampakan kulit, warna kayu teras, arah serat, ada tidaknya getah dan sebagainya.
Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan (kayu gergajian, moulding, dan sebagainya) masih mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar yang mudah dilihat.  Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis)  memiliki gambar lingkaran tumbuh yang jelas). Namun apabila kayu tersebut diamati  dalam bentuk barang jadi dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi karena sudah dilapisi dengan cat, maka satu-satunya cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan jenisnya adalah dengan cara memeriksa sifat anatomi/strukturnya.  Demikian juga untuk kebanyakan kayu di Indonesia, dimana antar jenis kayu sukar untuk dibedakan, cara yang lebih lazim dipakai dalam penentuan je-nis kayu adalah dengan memeriksa sifat anatominya (sifat struktur).
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat makroskopis) dan sifat struktur (disebut juga sifat mikroskopis).  Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau makroskopis dalam mengenal atau menentukan suatu jenis kayu.  Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini dapat dipergunakan secara bersama-sama, karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur dalam menentukan jenis.
Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan,  pen-ciuman,  perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu.   Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :
a.       warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
b.      tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
c.       arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
d.      gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
e.       berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
f.       kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
g.      lingkaran tumbuh,
h.      bau, dan sebagainya.
Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat struktur kayu daun lebar dan sifat struktur kayu daun jarum.  Kayu-kayu daun jarum tidak mempunyai pori-pori kayu seperti halnya kayu-kayu daun lebar.
Untuk menentukan jenis sepotong kayu, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa sifat kasarnya.  Apabila dengan cara tersebut belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka terhadap kayu tersebut dilakukan pemeriksaan sifat strukturnya dengan mempergunakan loupe.
Untuk memudahkan dalam menentukan suatu jenis kayu, kita dapat mempergunakan kunci pengenalan jenis kayu. Kunci pengenalan jenis kayu pada dasarnya merupakan suatu kumpulan keterangan tentang sifat-sifat kayu yang telah dikenal, baik sifat struktur maupun sifat kasarnya.  Sifat-sifat tersebut kemudian didokumentasikan dalam bentuk kartu (sistim kartu) atau dalam bentuk percabangan dua (sistem dikotom).
Pada sistem kartu,  dibuat kartu dengan ukuran tertentu (misalnya ukuran kartu pos). Disekeliling kartu tersebut dicantunkan  keterangan sifat-sifat kayu, dan pada bagian tengahnya tertera nama jenis kayu. Sebagai contoh, kayu yang akan ditentukan jenisnya,  diperiksa sifat-sifatnya. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, sifat kayu yang tertulis pada kartu ditusuk dengan sebatang kawat dan digoyang sampai ada kartu yang jatuh.  Apabila kartu yang jatuh lebih dari satu kartu, dengan cara yang sama kartu-kartu itu kemudian ditusuk pada sifat lain sesuai dengan hasil pemeriksaan sampai akhirnya tersisa satu kartu.  Sebagai hasilnya, nama jenis yang tertera pada kartu terakhir tersebut merupakan nama jenis kayu yang diidentifikasi.
Dikotom berarti percabangan, pembagian atau pengelompokan dua-dua atas dasar persamaan sifat-sifat kayu yang diamati.   Kayu yang akan ditentukan jenisnya diperiksa sifat-sifatnya, dan kemudian dengan mempergunakan kunci dikotom, dilakukan penelusuran sesuai dengan sifat yang diamati sampai diperolehnya nama jenis kayu yang dimaksud.
Kunci cara pengenalan jenis kayu di atas, baik sistem kartu maupun dengan sistem dikotom, keduanya mempunyai kelemahan.  Kesulitan tersebut adalah apabila kayu yang akan ditentukan jenisnya tidak termasuk ke dalam koleksi.  Walaupun sistem kartu ataupun sistem dikotom digunakan untuk menetapkan jenis kayu, keduanya tidak akan dapat membantu mendapatkan nama jenis kayu yang dimaksud.   Dengan demikian, semakin banyak koleksi kayu yang dimiliki disertai dengan pengumpulan mengumpulkan sifat-sifatnya ke dalam sistem kartu atau sistem dikotom, akan semakin mudah dalam menentukan  suatu jenis kayu.
Namun dalam praktikum kali ini tidak menggunakan kedua metode tersebut. Karena kami hanya melakukan pengamatan dengan menggunakn lup/kaca pembesar saja sebagai alat bantu, selebihnya kami mengamati dengan menggunakan mata telanjang. Dan yang perlu diperhatikan adalah kayu yang dijadikan sampel dalam praktikum kali ini terdapat dua jenis yaitu kayu daun lebar dan kayu daun jarum dimana diantara keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dilihat dari segi pori-porinya, sebab pada kayu daun jarum tidak memiliki pori-pori seperti halnya yang terdapat pada kayu daun lebar. Dan hal ini mencerminkan salah satu sifat makroskopis struktural kayu. Sebagai contoh, pada kayu pinus ( pinus merkusii ) tidak memiliki pori-pori dikarenakan kayu ini termasuk golongan kayu daun jarum.

















IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
      Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :
B.  Saran
     


























DAFTAR PUSTAKA

Haygreen, J.G. and J.L. Bowyer, 1982. Forest Products and Wood Science an Introduction. The Iowa State Uneversity Press. Ames.

Mandang, Y.I. dan I.K.N. Pandit. 2002. Pedoman dan Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Yayasan Prosesa dan Pusat Diklat Pegawai dan SDM Kehutanan. Bogor.
Pandit. I.K.N. dan H. Ramdan.2002. Anatomi kayu:Pengantar Sifat Kayu Sebagai Bahan Baku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor























LAMPIRAN


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar