UKURAN OPTIMAL FESES KUDA ( Equus caballus )

Sabtu, 26 November 2011





UKURAN OPTIMAL FESES KUDA ( Equus caballus )
(Laporan Praktikum Analisis Keanekaragaman Flora dan Fauna)




Oleh

Agung Wahyudi
Andrian Dwi Atmanto
Anita Dewi Agustin
Rumiko Rivando
Noerma Puspita




Unila 2












JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2011



I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Pada beberapa daerah, kuda juga digunakan sebagai sumber makanan. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak 2000 SM.
Kuda berevolusi hingga menjadi kuda yang seperti sekarang ini. mulai dari perubahan jarinya yang sekarang hanya tinggal satu akibat dari seleksi alam. Kuda-kuda yang ringan, seperti kuda Arab, Morgan, Quarter Horse, Paint dan Thoroughbred beratnya bisa mencapai sekitar 590 kg. Kuda yang "berat" atau kuda beban, seperti misalnya Clydesdale, Draft, Percheron, dan Shire beratnya dapat mencapai hingga 907 kg.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah :
1.    untuk mengetahui ukuran feses kuda ( Equus caballus ) yang ada di Taman Wisata Bumi Kedaton.
2.    mengetahui karakteristik dari feses kuda tersebut.



II. METODE PRAKTIKUM

A.      Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada :
Hari/tanggal         : Minggu,13 Maret 2011
Tempat                 : Taman Wisata Bumi Kedaton, bandar Lampung
Waktu                   : 09.00- selesai

B.       Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
·         Penggaris, Pensil/Pena, Kertas
·         Feses kuda yang masih segar
·         Kamera


C. Cara Kerja

1.  memfoto feses di dalam kandang dengan menyertakan penggaris dalam pemtretan feses
2.  meyerok feses tersebut lalu melakukan pengukuran panjang, lebar, atau diameter feses.
3.  menggambar deskripsi dan bentuk feses satwa tersebut dengan ukuran yang jelas.





III.       HASIL PENGAMATAN


Tabel Pengamatan Analisis Feses

No
Panjang
Lebar
Tinggi
Warna
Gambar
1
4,5 cm
2,5 cm
2,3 cm
Hijau kecoklatan




Sketsa feses kuda
                                                                                                t = 2,3 cm
                                    p= 4,5 cm




                                                                       





                                                                                          l=2,5 cm




















IV. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini adalah menganalisis feses satwa, dan satwa yang kami amati yaitu kuda ( Equus caballus ). Caranya  dengan cara mengukur feses dengan menggunakan penggaris dan mengamati bentuk, warna serta menganalisis ukuran feses yang ada. inja atau feses atau dalam bahasa kasarnya disebut tahi adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka. Pada manusia, proses pembuangan kotoran dapat terjadi (bergantung pada individu dan kondisi) antara sekali setiap satu atau dua hari hingga beberapa kali dalam sehari. Pengerasan tinja atau feses dapat menyebabkan meningkatnya waktu dan menurunnya frekwensi buang air besar antara pengeluarannya atau pembuangannya disebut dengan konstipasi atau sembelit. Dan sebaliknya, bila pengerasan tinja atau feses terganggu, menyebabkan menurunnya waktu dan meningkatnya frekwensi buang air besar disebut dengan diare atau mencret.
Bau khas dari tinja atau feses disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri menghasilkan senyawa seperti indole, skatole, dan thiol (senyawa yang mengandung belerang), dan juga gas hidrogen sulfida. Asupan makanan berupa rempah-rempah dapat menambah bau khas feses atau tinja. Terdapat juga beberapa produk komersial yang dapat mengurangi bau feses atau tinja.

Hal pertama yang dilakukan dalam pengamatan ini adalah mengambil feses yang tersedia, namun dalam pengambilan feses dicari bentuk feses yang bagus, ideal dan tidak hancur/ utuh, yang diletakkan di kertas ataupun daun pisang yang telah disediakan. Kemudian feses-feses tersebut diamati bentuk dan warnanya, serta diukur panjang serta lebarnya dengan menggunakan penggaris. Setelah diketahui panjang dan lebar feses tersebut, maka dihitung  tinggi feses tersebut.

Dari hasil pengamatan diperoleh data yaitu, panjang feses sebesar 4,5 cm, lebar feses sebesar 2,5 cm dan tinggi feses sebesar 2,3 cm. Sedangkan warna dari feses tersebut berwarna hijau kecoklatan. Feses yang diambil adalah feses yang masih segar dan berstruktur baik dan tidak hancur. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah saat melakukan pengukuran dan pengamatan. Warna feses rusa yang mengkilap biasanya adalah feses yang baru dikeluarkan, sedangkan bila feses pucat dan kering biasanya telah lama dikeluarkan dan telah terkena sinar matahari alam waktu yang lama.

Adapun bentuk dari feses kuda sendiri beranekaragam, ada yang berbentuk lonjong, bulat , dan adapula yang tak berbentuk atau menggumpal tak beraturan. Namun mayoritas feses kuda berbentuk lonjong. Bentuk feses kuda sangat dipengaruhi oleh makanan yang ia makan. Adapun makanan yang diberikan oleh pihak pengelola Taman Wisata  Bumi Kedaton adalah rumput dan dicampur dengan singkong. Menurut Hawcroft (1990), biasanya kuda mengeluarkan feses 10-15 kali dalam sehari. Warna, konsistensi, volume, bau dan frekuensi defekasi sangat tergantung pada jenis pakan dan program latihan yang diterima. Seekor kuda yang menerima diet seimbang mengeluarkan feses yang berwarna coklat, berbentuk, cenderung hancur ketika jatuh ke tanah dan mempunyai bau yang tidak menyenangkan. Kuda-kuda yang memakan rumput berair akan sering mengeluarkan feses dengan keadaan berwarna hijau, tidak berbentuk, seperti feses sapi; pemberian dalam volume besar dengan rendah kualitas hay, feses akan sulit keluar, berwarna kehitaman.
















V. KESIMPULAN


Adapun kesimpulan dari praktikum yang telah dilakukan ini adalah :
1.  Ukuran feses kuda ( Equus caballus ) yang telah diamati yaitu panjang sebesar 4,5cm, lebar 2,5 cm, dan tinggi feses tersebut sebesar 2,3cm.
2.  Karakteristik dari feses yang diamati yaitu berwarna hijau kecoklatan, berstektur agak kasar, dan berbentuk lonjong.
























DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Kuda. Diunduh pada 15 Maret 2011.

Anonim. 2011. http://duniakuda.blogspot.com/. Diunduh pada 15 Maret 2011

Harper. Collins. 1996.Book of Horses: A Complete Medical Reference Guide for Horses and Foals, disunting oleh Mordecai Siegal. (Oleh dosen dan staf, Universitas California, Davis, Sekolah Kedokteran Hewan.).



































LAMPIRAN















Gambar 1. Segumpal Feses kuda ( Equus callabus ) di kandang kuda Taman Wisata Bumi Kedaton.













Gambar 2. Sampel feses kuda yang diamati di Kandang kuda Taman Wisata Bumi Kedaton















Gambar 3. Kuda  (Equss callabus ) yang ada di Taman wisata Bumi Kedaton






Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar