PENGUKURAN KEBERHASILAN TANAMAN ( Laporan Praktikum Silvikultur )

Sabtu, 04 Juni 2011






PENGUKURAN KEBERHASILAN TANAMAN
( Laporan Praktikum Silvikultur )







Oleh



Rumiko Rivando                                 0814081062
Esra M Simangunsong                        0814081038
Fitri L Manurung                                0814081040
Hendra Marti Sya Ban                        0814081044
Rio Yudischa                                      0814081061
Resti Widya Putri                               0854081010


















JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
 2010



IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil pengamatan

B. Pembahasan

Pada praktikum kali ini mengenai pengukuran keberhasilan tanaman. Dimana terdapat beberapa faktor terkait keberhasilan tanaman. Suatu vegetasi dikatakan berhasil tumbuh dilihat dari kondisi tanaman berapa persen tanaman yang dapat bertahan. Untuk itu semua maka kami melakukan dengan metode plot jalur dengan panjang 100 meter dan lebar 3 meter kea rah kanan dan 3 meter ke arah kiri. Sebelumnya kami menentukan pohon induk dengan criteria pohon yang dominan dan memiliki diameter batang yang lebih besar disbanding yang lain. Tiap 1 meter dari arah rintis dibuat simpul sehingga mempermudah untuk mendapatkan koordinat dari pohon-pohon yang diamati.
Hasil praktikum pada kelompok kami diperoleh pohon durian yang memiliki tinggi 21 meter dengan diameter 95,54 cm. Pohon durian pertama ini merupakan pohon induk yang terdapat di koordinat (3,1) serta tumbuh dengan baik. Pohon yang kedua adalah durian lagi yang memiliki tinggi 20 meter dengan diameter 59,23 cm. Pohon ketiga adalah pohon rambutan yang tingginya 10 meter dengan diameter 38,53 cm. Durian dengan tinggi 24 m dan berdiameter 66,24 cm. Kemudian pohon durian yang berdiameter 41,08 cm dan tingginya 23 m. Pohon durian yang kelima ini memiliki tinggi 23 m dan diameternya 27,78 cm.pohon yang ketuhuh adalah pohon durian lagi dengan tinggi 23 m dan berdiameter 35,35 cm. Pohon petai dengan tinggi 22m dan diameternya 40,12 cm. Dan pohon yang terakhir adalah pohon petai dengan tinggi 24 m dan berdiameter 42,99 cm.
Dalam kawasan yang kami lakukan praktikum merupakan daerah yang memiliki tegakan campuran. Seperti diketahui tegakan campuran memiliki kelemahan diantaranya membutuhkan biaya yang lebih tinggi waktu pemanenan dibandingkan tegakan murni. Namun kelebihannya adalah memiliki keanekaragaman yang tinggi. Sedangkan tegakan murni lebih mudah dipanen karena seragam tumbuhannya. Namun keanekaragamannya rendah. Menurut kelompok kami tentang penjarangan dalam penanaman pohon sudah cukup baik,bahkan alangkah lebih baiknya untuk ditanam lagi pohon-pohon kehutanan. Karena dari hasil pengamatan yang dilakukan tanaman yang mendominasi adalah perdu coklat. Sedangkan pohon-pohonnya kurang begitu mendominasi.
Untuk kriteria pohon dapat dikatakan sehat adalah pertumbuhannya cepat, mampu bertahan saat musim kemarau, mengahasilkan hasil hutan yang relatif konstan tiap musimnya contohnya buah-buahan,getah,damar,dan lain sebagainya. Kayu sampai saat ini masih merupakan produk penting dalam kegiatan pengusahaan hutan, karena itu dalam pendugaan volume pohon, pengukuran dimensi pohon harus dilakukan dengan cermat agar dapat diperoleh taksiran volume pohon yang akurat yaitu taksiran volume yang mendekati nilai volume yang sebenarnya.  Kualitas dugaan volume pohon ini tergantung dari beberapa faktor, diantaranya : tingkat akurasi yang diinginkan, karakteristik pohon, metode pengukuran, alat yang digunakan dan kondisi saat pengukuran dimensi pohon, persamaan volume yang digunakan, dan lain-lain.
Untuk mendapatkan gambaran tentang karakteristik pohon sebagai penentu volume pohon, yang diuraikan beberapa macam dimensi pohon yang meliputi diameter batang, tinggi pohon, dan faktor bentuk batang.
Diameter adalah sebuah dimensi dasar dari sebuah lingkaran.  Diameter batang didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di sekeliling batang yang melalui titik pusat (sumbu) batang.
Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur terutama pada pohon bagian bawah.  Tetapi oleh karena bentuk batang yang pada umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah pohon akan dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai banyaknya titik dari pangkal batang hingga ke ujung batang.  Oleh karena itulah perlu ditetapkan letak pengukuran diameter batang yang akan menjadi ciri karakteristik sebuah pohon.  Atas dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada atau dbh (diameter at breast height) sebagai standar pengukuran diameter batang
Tinggi pohon didefinisikan sebagai jarak atau panjang garis terpendek antara suatu titik pada pohon dengan proyeksinya pada bidang datar.  Istilah tinggi pohon hanya berlaku untuk pohon yang masih berdiri, sedangkan untuk pohon rebah digunakan istilah panjang pohon.
Seperti sudah dijelaskan di muka, tinggi pohon adalah salah satu dimensi yang harus diketahui untuk menghitung nilai volume pohon.  Selain itu, peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang tersebar merata dalam areal 1 hektar, dikaitkan dengan umur tegakan jenis pohon tertentu adalah merupakan komponen informasi yang diperlukan untuk menentukan indeks tempat tumbuh atau kualitas tempat tumbuh (bonita) yang mencerminkan produktivitas lahan dalam memberikan hasil (potensi tegakan).


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
      Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1)      Kawasan yang kami lakukan praktikum merupakan daerah yang memiliki tegakan campuran. 
2)      Kriteria pohon dapat dikatakan sehat adalah pertumbuhannya cepat, mampu bertahan saat musim kemarau, mengahasilkan hasil hutan yang relatif konstan tiap musimnya contohnya buah-buahan,getah,damar,dan lain sebagainya.
3)      Peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang tersebar merata dalam areal 1 hektar.

B.  Saran

      Lebih ditingkatkan lagi koordinasi antar assisten dosen sehingga praktikan lebih bisa memahami konsep dan manfaat dari praktikum ini.










DAFTAR PUSTAKA

Bustomi, S.  1995.  Penggunaan Centroid Volume Dalam Menduga Volume Kayu Bulat Pinus, Pinus Merkusii Jungh. Et De Vries.  Thesis Pada Program Pascasarjana Ipb.  Bogor.  (Unpublished).
Chapman, H.H. And W.H. Meyer.  1949.  Forest Mensuration.  Mcgraw-Hill Book Company Inc.  New York.
Elviadi, I. 1994.  Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen Kelompok Ramin, Gonistylus Spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume Sortimennya.  Studi Kasus Di Areal Hph Pt Inhutani Iii Sampit Kalimantan Tengah.  Skripsi Pada Fakultas Kehutanan Ipb.  Bogor.  (Unpublished).
Laar, A. Van And Akça, A.  1997.  Forest Mensuration.  Cuvillier Verlag. Göttingen.

           























LAMPIRAN


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar